Trada Maritim (saham TRAM) VS Gunung Bara Utama

TRAM akan mengakuisisi GBU




TRAM berniat mengakuisisi PT Gunung Bara Utama dari PT Semeru Infra Energi. PT Gunung Bara Utama sendiri adalah pelanggan dan penyewa kapal milik PT Jelajah Bahari Utama yang merupakan anak usaha dari PT Bahari Sukses Utama. Sedangkan PT Bahari Sukses Utama adalah merupakan anak usaha TRAM.

Lalu, siapa sebenernya PT Gunung Bara Utama ?

PT Gunung Bara Utama didirikan pada tahun 2007 dan bergerak dalam bidang pertambangan dengan lokasi tambang dikecamatan damai, kutai barat, kalimantan timur. GBU memiliki sumberdaya batu bara sebesar 372,8 juta MT dan cadangan sebesar 100,3 juta MT dengan kadar 5000 kkal per kg.

Saat ini GBU memegang ijin usaha pertambangan dengan status produksi dan operasi. GBU juga memiliki infrastruktur sepanjang 60 km dan fasilitas penanganan batu bara.

PT Gunung Bara Utama (GBU)  memiliki 4 kontraktor yang menangani tambang batubaranya. antara lain :
  1. PT Hillconjaya Sakti, kontraktor penambangan batu bara
  2. PT Ricobana Abadi, kontraktor penambangan batu bara
  3. PT Armada Bara Utama, kontraktor angkutan darat
  4. PT Jelajah Bahari Utama (JBU) yang merupakan anak usaha dari PT Bahari Sukses Utama yang merupakan anak usaha TRAM. Jadi JBU adalah setu satunya perusahaan kapal yang menangani batubara GBU.





Perjanjian penting antara PT Gunung Bara Utama dengan PT Jelajah Bahari Utama

1. Tanggal 25 oktober 2012 PT jelajah bahari utama menandatangi perjanjian dengan PT GBU untuk menyewakan 10 set kapal tongkang dan kapal tunda untuk jangka waktu 10 tahun selambat lambatnya tanggal 31 agustus 2013, dengan harga sewa 5.000.000.000 setiap bulan untuk dua bulan pertama dan 7.000.000.000 untuk seterusnya. 

2. Perjanjian kemudian diperbaharui pada tanggal 21 januari 2013 dimana masa perjanjian menjadi 5 tahun dengan opsi tambahan perpanjangan selama 5 tahun dengan harga 8 usd per ton.

3. Tanggal 4 maret 2013 GBU menyewa pasilitas floating transhipment dengan kapasitas 18.000 ton per hari selama 3 tahun dan berlaku 10 hari setelah fasilitas floating ada dilokasi

4. Tanggal 1 juli 2013 GBU dan JBU juga melakukan perjanjian tambahan untuk menyewa 5 set kapal tunda dan tongkang selama 10 tahun sejak ditanda tangani atau paling lambat tanggal 31 desember 2014.

Dari data di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa : 
  1. Perjanjian sewa 10 set kapal tongkang dan tunda tahap 1 akan berakhir pada januari 2018 sedangkan 5 set kapal tongkang dan tunda tahap 2 akan berakhir pada juli 2018. 
  2. GBU menyewa kapal BJU dengan harga 8 USD per ton.




Benarkah GBU mau diakuisisi karena tidak mampu membayar utang ke BJU ? Mari kita cek.

Di perjanjian pertama, BJU akan menyewakan 10 kapal tongkang dan tunda seharga 7.000.000.000 rupiah pe bulan atau 700.000.000 rupiah untuk setiap kapal per bulan. Jika asumsi USD waktu itu (Oktober 2012) adalah 9.500  maka menjadi 736.800 USD per bulan untuk 10 set kapal atau 73.680 USD per bulan per kapal. Pada Q2 2013, jumlah kapal yang disewa menjadi 15 set tongkang dan tunda sehingga diperkirakan sewanya adalah sebesar 1.105.200 USD per bulan dan menjadi 3.315.600 USD per 3 bulan atau 13.262.400 USD per tahun

Tiap 3 bulan sekali GBU selalu membayar uang muka sewa yang dikompensasikan dengan tagihan di masa datang. Jika di total dalam setahun maka uang muka yang dibayar setiap 3 bulan akan menjadi sebagai berikut :

31 Desember 2013, uang muka sewa USD 8.553.470
  • Total tahun 2013 adalah -4.708.930 USD

31 Desember 2014, uang muka sewa USD 12.170.447, dengan rincian
  • Q1 USD 9.671.424 (tanggal 21 April 2014 dikembalikan USD 7.000.000)
  • Q2 USD 3.189.723
  • Q3 USD 3.119.577
  • Q4 USD 3.189.723
  • Total tahun 2016 adalah -1.091.953 USD

31 Desember 2015, uang muka sewa USD 12.758.892, dengan rincian
  • Q1 USD 3.189.723
  • Q2 USD 3.189.723
  • Q3 USD 3.189.723
  • Q4 USD 3.189.723
  • Total tahun 2015 adalah  -503.500 USD
31 Desember 2016, uang muka sewa USD 12.669.087
  • Q1 USD 3.174.640
  • Q2 USD 3.174.640
  • Q3 USD 3.174.640
  • Q4 USD 3.145.167
  • Total tahun 2016 adalah -593.300 USD

Sampai Q2 2017, uang muka sewa yang sudah dibayar USD 6.290.334
  • Q1 USD 3.145.167
  • Q2 USD 3.145.167
  • Total sampai Q2 2017 adalah -340.800 USD

Jika ditotal dari tahun 2013 maka jumlah utang GBU ke BJU adalah sebesar 6.735.045 USD (ini asumsi penulis ya) yang jika dirupiahkan dengan kurs 13.500 menjadi 91M. Masak sih sekelas GBU ngga mampu membayar 91M? menurut saya sih ngga terlalu besar untuk ukuran GBU.




Berapa sebenernya volume produksi batubara GBU?

BJU sendiri adalah satu satunya kontraktor barge di GBU. Dengan jumlah sewa sebesar 12.500.000 usd per tahun dan harga sewa sebesar 8 usd per ton berarti volume produksinya adalah sebesar kurang lebih 1.562.500 ton per tahun. 

Jadi yang paling utama menurut penulis, TRAM berniat mengakuisisi GBU adalah untuk menyelamatkan kontrak jangka panjang perusahaan yang berakhir januari 2018. Disamping itu mungkin juga karena faktor utang dan keinginan untuk merambah bisnis batubara yang sedang menggeliat. Dari segi utang pun penulis masih dengan jumlahnya yang sebesar 91M. Bisa saja memang karena jumlah pengapalannya yang turun karena harga pengangkutan sendiri dihitung dari tonase yaitu 8 usd per ton.

Ini berdasarkan pandangan penulis ya, lebih atau salah mohon dimaafkan.






No comments: