Sekilat saham SRSN

PT Indo Acidatama Tbk





SRSN didirikan tahun 1983 dengan nama PT Indo Alkohol Utama. Kemudian tahun 1986 berubah menjadi PT Indo Acidatama Chemical Industry. Pada Oktober 2005, melakukan merger dengan PT Sarasa Nugraha Tbk dan pada tahun 2006 berubah nama menjadi PT Indo Acidatama Tbk.

SRSN memiliki kegiatan usaha antara lain :
  1. Mengusahakan segala kegiatan dan usaha dalam bidang perindustrian yaitu industri pakaian jadi dan kimia yaitu : industri spritus, alkohol, asam asetat, athyl asetat, jerigen plastik dan produk turunannya.
  2. Kegiatan penunjang yaitu usaha dalam bidang pemasaran pakaian jadi, spritus, alkohol, asam asetat, ethyl asetat, pupuk dan jerigen plastik dan produk turunannya.


PRODUK
  1. Alkohol atau ethanol dengan kapasitas 48.650 KL
  2. Asam cuka atau acetic acid dengan kapasitas 36.600 ton
  3. Ethyl asetat atau Ethyl acetate dengan kapasitas 7.920 ton
  4. Pupuk Bio Organik Plus dengan kapasitas 66.000 KL


PROSES PRODUKSI

Bahan utama untuk memproduksi kimia SRSN adalah tetes tebu. Bahan baku umumnya didapat dari PT Kebon Agung, PT Perkebunan Nusantara IX, PT Perkebunan Nusantara x, PT Perkebunan Nusantara XI, PT Perkebunan Nusantara XII, DPC APTRI wilayah Jawa Tengah dan PG Rajawali II.

Untuk membuat Alkohol, tetes tebu di permentasi dan kemudian di destilasi vacum dan menghasilkan Alkohol.

Untuk membuat Asam Cuka adalah melalui oksidasi uap alkohol dengan udara dalam reaktor fixed bed menjadi Acetaldehyde liquid dan dioksidasi dengan udara dalam reaktor bubble menjadi asam cuka.

Pembuatan ethyl asetat merupakan hasil reaksi esterifikasi antara asam cuka dengan alkohol yang berlangsung dalam reaktor fixed bed.




PANDANGAN 2017

Tahun 2017, total pendapatan adalah sebesar 521,48M dengan rincian sebagai berikut:

  1. Ethanol sebesar 424,66M
  2. Asam cuka sebesar 51,5M
  3. Ethyl asetat sebesar 1,28M
  4. Pupuk sebesar 28,01M
  5. Tetes sebesar 10,96M
  6. Spritus sebesar 2,67M
  7. CO2 sebesar 2,34M

Pada tahun 2017, produksinya adalah sebagai berikut:
  1. Ethanol sebesar 41.041 KL
  2. Asam cuka sebesar 0
  3. Ethyl Asetat sebesar 0
  4. Pupuk Bio Organik Plus sebesar 1.129 KL

Pada tahun 2017, SRSN tidak memproduksi asam cuka dan Ethyl asetat. Artinya produk yang dijual berdasarkan produk tahun sebelumnya yang masih tersedia. Bahkan asam cuka sudah tidak diproduksi lama sebelumnya. (berdasarkan data tahun 2012 juga tidak diproduksi asam cuka).

Kalau kita cek, maka harga rata rata penjualan pada tahun 2017 adalah sebagai berikut:
  1. Ethanol dengan produksi 41.041 KL dengan pendapatan sebesar 424,66M maka harga rata rata adalah sebesar 10.347.200 per KL
  2. Pupuk dengan produksi 1.129 KL dengan pendapatan sebesar 28,01M maka harga rata rata adalah sebesar 24.809.500 per KL
  3. Ethyl asetat kita cek tahun 2016 pendapatan sebesar 19,9M dengan produksi 2.037KL sehingga harga rata rata adalah sebesar 9.769.200 per KL
  4. Asam cuka harga rata rata dipasaran adalah sekitar 36.000.000 per KL


BERAPA PELUANG PENDAPATAN JIKA SELURUH PRODUKSI DIMAKSIMALKAN SAMPAI KAPASITAS?

Mari kita berandai andai. Seandainya saja permintaan produk SRSN tinggi dan produksinya bisa dimaksimalkan sampai batas kapasitas maka pendapatannya adalah sebagai berikut:
  1. Ethanol memiliki kapasitas 46.650 KL dengan harga rata rata jual 10.347.200 per KL maka pendapatannya adalah sebesar 482,7M
  2. Pupuk memiliki kapasitas 66.000 KL dengan harga rata rata jual 24.809.500 per KL maka pendapatannya adalah sebesar 1.637M
  3. Ethyl asetat memiliki kapasitas 7.920 KL dengan harga rata rata jual 9.769.200 per KL maka pendapatannya adalah sebesar 77,6M
  4. Asam cuka memiliki kapasitas sebesar 36.600 KL dengan harga rata rata jual sebesar 36.000.000 per KL maka pendapatannya adalah sebesar 1.317M

Kalau ditotal maka pendapatannya adalah sebesar 3.514,3M. Dengan asumsi NPM adalah sebesar 3,4% maka laba adalah sebesar 119,5M dan EPS sebesar 20 per lembar. 

Untuk menggenjot pendapatan, SRSN memang harus fokus kepada pemasaran sehingga produksi bisa ditingkatkan, karena peluang pendapatan masih sangat besar terutama untuk pupuk cair dan asam cuka. 


PANDANGAN 2018

Bio ethanol sebagai alternatif pengganti BBM sebenernya memiliki peluang yang baik di tahun 2018, karena melihat harga minyak yang terus melambung memberikan angin segar bagi permintaan bio ethanol di indonesia.

Kemungkinan besar peluang pendapatan ditahun 2018 akan lebih baik dari 2017. Yang menjadi perhatian di tahun 2018 tentu adalah jika SRSN kembali memproduksi asam cuka, ethyl asetat dan memperbesar produksi pupuk cair sehingga pendapatan juga akan meningkat.

Secara jangka panjang, menurut saya SRSN masih memiliki prospek yang baik secara internal. Karena kapasitas pabrik masih sangat tinggi dibandingkan yang sudah diproduksi. 

Mungkin hanya itu yang bisa ditulis, lebih dan kurang mohon dimaafkan. Ini bukan ajakan untuk membeli ya karena segala keputusan ada di tangan anda.

Tulisan ini dipersembahkan untuk Bapak Iwan Sutawijaya yang telah berpulang ke rumah Tuhan. Beliau adalah Guru, Motivator, sahabat dan trader yang handal. Semoga mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

No comments: