Rumor saham LAPD

PT Leyand International Tbk.




LAPD didirikan tahun 1990 dengan nama PT Lemahabang perkasa. Pada tahun 2002, kemudian berganti nama menjadi PT lapindo International Tbk dan pada tahun 2007, berubah menjadi PT Leyand International Tbk.

Pada awalnya, LAPD bergerak dalam bidang industri kemasan plastik. kemudian tahun 2009, merubah kegiatan usaha menjadi  Investasi, Pembangkit listrik dan Energy.

LAPD memiliki satu anak usaha yaitu PT Asta Keramasan Energi, yang memiliki 3 pembangkit listrik dengan kapasitas total 257,1MW yaitu :
  1. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Sicanang, Medan, Sumatera Utara kapasitas 107,3 MW
  2. Pembangkit Listrik tenaga Diesel (PLTD) Siantan, Pontianak, Kalimantan Barat kapasitas 35,8MW
  3. Pembangkit Listrik tenaga Gas (PLTG) Keramasan, Palembang, Sumatera Selatan Kapasitas 2x57MW


APA YANG MENARIK DARI LAPD?

Seperti kita ketahui bersama, pemerintah sedang menggenjot listrik nasional dimana pada awalnya pemerintah menargetkan 35.000 MW sampai tahun 2019 dan rasio elektrifikasi sebesar 100% plus cadangan 30% di akhir 2024. Berapa kapasitas listrik untuk mencapai rasio elektrifikasi 100% plus cadangan 30%?

Pada tengah tahun 2017, diperkirakan penduduk Indonesia adalah 260 juta jiwa. dengan pertumbuhan sebesar 1,49% per tahun, maka diakhir 2017 diperkirakan penduduk Indonesia adalah sebesar 262 juta jiwa, dan diakhir tahun 2024 diperkirakan penduduk Indonesia berjumlah 290 juta jiwa.

Saat ini, rata rata konsumsi listrik per kapita adalah sebesar 956 Kwh. Dengan asumsi pertumbuhan pemakaian listrik per kapita sebesar 7,8% sehingga di tahun 2024 diperkirakan konsumsi listrik per kapita adalah sebesar 1.658 Kwh. Sehingga, kebutuhan listrik tahun 2024 adalah sebesar 290 juta x 1.658 Kwh/8760 jam = 55.000 MW. Kemudian untuk cadangannya adalah sebesar 30% sehingga total kebutuhan untuk mencapai rasio elektrifikasi 100% plus cadangan sebesar 30% adalah sebesar 71.500 MW.



OK, sebelum berputar putar, kita kembali ke LAPD

Pada tahun 2017 LAPD memperoleh pendapatan sebesar 121,6M yaitu terdiri dari pendapatan dari Medan sebesar 85,1M dan pendapatan dari Pontianak sebesar 36,5M. 

PT Asta Keramasan Energi (Entitas anak) melakukan perjanjian jual beli listrik dengan PLN wilayah sumatera utara sebesar 65MWh (diperpanjang sampai 10 Juli 2018), kemudian perjanjian dengan PLN kalimantan Barat sebesar 20 MWh (diperpanjang sampai 31 Desember 2018) dan terakhir perjanjian dengan PLN Sumatera selatan  sebesar 2x50MW (perjanjian terakhir 30 November 2013 dan saat ini masih dalam tahap negosiasi untuk perpanjangan).

PLTD medan memiliki kapasitas 107,3MW yang akan menghasilkan energi dalam setahun sebesar 107,3MWx8760jamx80%pemakaian= 751.958MWh = 751.958.000 kWh. Perjanjian jual beli sendiri sebesar 65MWh yang menghasilkan energi dalam setahun sebesar 65MWhx365 hari = 73.726 MWh atau sebesar 73.726.000kWh per tahun. Dengan pendapatan sebesar 85,1M maka harga jual rata rata ke PLN adalah sebesar 1.170 per kWh.

PLTD Pontianak memiliki kapasitas 35,8MW yang menghasilkan energi sebesar 35,8MWx8760jamx80%pemakaian= 250.886MWh atau sebesar 250.886.000 kWh. Perjanjian jual beli dengan PLN adalah sebesar 20 MWh yang menghasilkan energi listrik sebesar 20MWhx365hari = 7.300 MWh per tahun atau sebesar 7.300.000 kWh per tahun. Pendapatan listrik total adalah sebesar 97,03M. Pendapatan penjualan energi listrik wilayah sumatera utara sebesar 85,1M sehingga penjualan energi listrik wilayah pontianak adalah sebesar 11,93M. Sehingga harga jual listrik rata rata untuk wilayah kalimantan barat adalah sebesar 1.634 per kWh.

PLTG Sumatera Selatan, memiliki kapasitas 2x57MW yang menghasilkan energi sebesar 2x57MWx8760jamx80%= 798.900MWh per tahun atau sebesar 798.900.000 kWh per tahun. Namun tidak ada pendapatan karena berhenti beroperasi dan saat ini masih menunggu negosiasi dengan PLN. Pada saat masih terikat perjanjian, PLN membeli listrik dari PLTG sumatera selatan sebesar 2x50MW yang akan menghasilkan energi listrik sebesar 2x50MWx8760jamx80%= 700.800MWh per tahun atau sebesar 700.800.000 kWh per tahun. Jika negosiasi berjalan lancar dan PLN kembali membeli listrik dari PLTG Sumatera Selatan maka akan ada tambahan pendapatan sebesar 700.800.000 kWh x 1.170 = 820M.



BERAPA PENDAPATAN KALAU SEMUA LISTRIK DIJUAL KE PLN?

Jika seluruh listrik baik PLTD maupun PLTG di jual ke PLN dengan asumsi beban maksimum pemakaian sebesar 80% maka pendapatannya adalah sebagai berikut:

  1. PLTD Sumatera Utara menghasilkan energi sebesar 751.958.000 kWh per tahun dengan harga rata rata 1.170 maka pendapatannya sebesar 880M
  2. PLTD Kalimantan Barat menghasilkan energi sebesar 250.886.000 kWh per tahun dengan harga rata rata 1.634 maka pendapatannya sebesar 410M
  3. PLTG Sumatera Selatan menghasilkan energi sebesar 798.900.000 kWh per tahun dengan harga rata rata 1.170 maka pendapatannya sebesar 935M

Jika ditotal maka pendapatannya adalah sebesar 2.225M dan ini belum termasuk sewa genset ya. Jika kita asumsikan NPM 8% maka labanya adalah sebesar 178M dan EPS sebesar 44 per lembar. 

Mungkin hanya ini yang bisa di tulis, lebih dan kurang mohon dimaafkan. Hitungan diatas hanya berdasarkan logika penulis Dan ini bukan ajakan untuk membeli ya, karena semua keputusan membeli ada di tangan anda masing masing.







No comments: