Rumor Saham HELI

Membaca Gerakan Terbang HELI. 

Yang Terlihat Dan Yang Tidak Terlihat






PT Jaya Trishindo Tbk (HELI) adalah perusahaan yang didirikan tahun 2008, yang memiliki ruang lingkup pekerjaan dalam bidang perdagangan, jasa dan penyewaan alat transportasi udara.

HELI sendiri saat ini memiliki satu anak usaha yaitu PT Komala Indonesia (99%), yang memiliki surat ijin usaha angkutan udara niaga tidak berjadwal yang diterbitkan oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia melalui Direktur Jendral Perhubungan udara dan berlaku selama PT Komala melakukan kegiatan angkutan udara niaga tidak berjadwal.


APA YANG MENARIK DARI HELI ?

Pada tahun 2017, pendapatan HELI adalah sebagai berikut :
  1. Pemakaian helikopter sebesar 146,3M
  2. Tagihan Avtur sebesar 4,3M
  3. Lain - lain sebesar 2,5M

Jadi total pendapatan adalah sebesar 153,1M dan laba tahun 2017 sebesar 9,2M atau net profit margin sebesar 6%.

Pada tahun 2017, pendapatan utama berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebesar 104,6M dan dari PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk sebesar 18,3M

Pada tahun 2017, HELI mengoperasikan 5 helikopter dimana 1 helikopter adalah milik sendiri dan 4 lainnya merupakan sewa pembiayaan dengan hak opsi dengan operator helikopter dari Vietnam.


APA YANG TERLIHAT?

Pendapatan 5 helikopter adalah sebesar 146,3M sehingga rata rata pendapatan 1 helikopter adalah sebesar 29,3M.

Sewa pembiayaan dengan hak opsi dari 4 helikopter di tahun 2017 adalah sebesar 29,3M.

Jadi, pendapatan 1 helikopter sebesar 29,3M dapat membiayai 4 helikopter dengan sistem sewa dengan hak opsi.

Saya membayangkan bahwa helikopter pertama yang merupakan milik PT Komala Indonesia dijadikan jaminan untuk melakukan penyewaan dengan hak opsi 4 helikopter lainnya.




APA YANG TIDAK TERLIHAT?

HELI sendiri dalam waktu dekat akan mengembangkan helicity atau helitaxi untuk daerah perkotaan terutama Jakarta dan sekitarnya. Apakah mungkin? Bukankah helitaxi membutuhkan banyak helikopter dimana, harga helikopter sendiri mahal?

Mari kita cek yang tidak terlihat.

Pada tahun 2018, HELI berniat menambah 2 helikopter baru. Harga 1 Helikopter berkisar antara 4Jt USD atau sekitar 55M sehingga dari IPO hanya bisa membayar uang muka untuk 1 helikopter. 

Darimana satunya lagi?

Pada tanggal 17 September 2017, PT Komala Indonesia menandatangani perjanjian penjualan pendahuluan dengan Leonardo S.p.a, Italia untuk pembelian helikopter dari Leonardo dengan harga pembelian sebesar EUR 4.848.800, dimana pada 31 desember 2017 jumlah uang muka yang sudah dibayar sebesar EUR 200.000 atau setara dengan Rp 3.234.724.000 (artinya 1 EUR = 16.173) Sehingga harga helikopter adalah sebesar Rp 78.419.642.400. Diperkirakan helikopter akan dikirim pada akhir 2018, sehingga akan menghasilkan pendapatan secara penuh di tahun 2019.

Berapa peluang pendapatan jika 2 helikopter tambahan beroperasi penuh?

1 helikopter rata rata menghasilkan pendapatan sebesar 29,3M per tahun. 1 helikopter bisa dijadikan jaminan untuk melakukan 4 penyewaan helikopter dengan sistem sewa pembiayaan dengan hak opsi. Artinya, dengan adanya 3 helikopter bisa melakukan sewa pembiayaan dengan hak opsi sebanyak 12 helikopter. Sehingga total helikopter adalah sebanyak 15.

Apakah 15 helikopter cukup untuk membangun helitaxi atau helicity? menurut saya, cukup.

Dari 15 helikopter (rata rata pendapatan 1 helikopter adalah 29,3M) akan menghasilkan pendapatan sebesar 15x29,3M = 439,5M. Dengan NPM sebesar 6% maka akan menghasilkan laba sebesar 26,37M dan EPS sebesar 32 per lembar. 

Mantab ngga gan?

Jadi menurut saya, HELI akan segera memiliki jaringan helikopter untuk helitaxi atau helicity karena berdasarkan data diatas, hal itu sangat mungkin untuk dilakukan.

Mungkin hanya itu yang bisa ditulis, dan ini hanya berdasarkan logika penulis. Dan ini juga bukan ajakan untuk membeli, karena semua keputusan ada ditangan anda.








No comments: