Analisis PT Bintang Mitra Semestaraya Tbk (Saham BMSR)

BMSR, Mutiara hitam di dalam lumpur



BMSR merupakan Salah satu perusahaan yang memiliki pendapatan yang sangat kuat. Dimana jika kita bandingkan pendapatannya mencapai hampir 18x nilai ekuitas atau 5x nilai aset perusahaan. Berarti BMSR memiliki bisnis dengan perputaran uang yang sangat cepat. 

BMSR sendiri didirikan tahun 1989 dengan nama PT Bintang mahkota Semestaraya. kemudian tahun 1991 berganti nama menjadi PT Bintang Mitra Semestaraya. Pada awal berdirinya BMSR merupakan perusahaan investasi pada properti real estate. Kemudian sejak tahun 2008, BMSR dipercaya oleh PT Sulfindo adiusaha, yang merupakan salah satu produsen produk kimia terbesar di indonesia, untuk menjadi distributor utama di seluruh wilayah Indonesia. Tahun 2009, BMSR mulai memasuki perusahaan perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan minyak dan gas bumi.


ANAK USAHA
  1. PT Binatek Reka Kruh (90%) bergerak dalam bidang ekplorasi dan produksi minyak dan gas bumi,dan saat ini mengoperasikan lapangan minyak Kruh Pendopo, Sumatera Selatan dengan luas area 258,1 km2.
  2. PT Retco Prima Energy (99,9%), bergerak dalam bidang eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi, dan saat ini mengoperasikan Blok Tanjung Miring Timur, Prabumulih, Sumatera Selatan dengan luas area 61,61 km2.
  3. Bittlestone Capital Inc. (100%), bergerak dalam bidang investasi dan saat ini memiliki beberapa investasi dalam bidang pertambangan minyak dan gas bumi diantaranya Kulczyk oil ventures Inc (Canada), ESK Ltd (bristish Virgin Island) dan Triton Petroleum Pte (Singapore) yang memiliki proyek di Brunei, Syria dan ukraine.
  4. PT Bintang Raya Anugerah Lestari (50%), bergerak dalam bidang perdagangan umum.


DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI

Komisaris Utama : Theophylus Hartono
Komisaris Independen : Andi Budhi Witjaksono

Direktur Utama : Welly Thomas
Direktur : Jhonny
Direktur tidak terafiliasi : Tony Santosa



PEMEGANG SAHAM
  1. Credit Suisse AG Singapore Trust sebesar 823.199.832 (71,01%)
  2. Suzanna Tanojo sebesar 191.700.000 (16,54%)
  3. Publik <5% sebesar 144.300.192 (12,45%)


SEJARAH PENCATATAN SAHAM
  1. Saham perdana @ 500 sebesar 130.000.000 tanggal 29 Desember 1999
  2. Saham Pendiri sebesar 206.000.000 tanggal 29 Desember 1999
  3. Rights Issue I sebesar 823.200.000 tanggal 28 November 2008
  4. Konversi waran I sebesar 24 tanggal 6 November 2013



PANDANGAN MASA DEPAN

Yang pertama kali menarik perhatian dari BMSR adalah beberapa kerjasama yang dilakukan perusahaan untuk memasarkan produk produk perusahaan besar di Indonesia antara lain:
  1. PT Sulfindo Adiusaha yang merupakan produsen bahan kimia, dimana BMSR memasarkan produk kimia seperti caustic soda, polyvinyl cloride, hidroclorid acid, sulfurid acid dan sodium hipochlorite
  2. PT Padi Unggul Indonesia, dimana BMSR memasarkan produk beras untuk wilayah jawa tengah dan akan terus dikembangkan untuk wilayah lain di Indonesia
  3. PT Prima Solusindo Sejahtera, dimana BMSR memasarkan besi beton

Kalau kita lihat ketiga produk diatas, saat ini harganya sedang merayap naik bahkan besi beton harganya sudah lebih dulu terbang.


Tahun 2016 BMSR mencatat penjualan sebesar 2.253M dengan rincian sebagai berikut :
  1. Produk kimia sebesar 686 juta ton dengan pendapatan sebesar 2.189M. Berarti pendapatan rata rata produk kimia adalah sebesar 3.191 per ton
  2. Produk beras sebesar 6,1 juta ton dengan pendapatan sebesar 63,3M. Berarti pendapatan rata rata produk beras adalah sebesar 10.400 per ton.

Pendapatan diatas belum termasuk besi beton sebesar 1,1M (jumlahnya masih kecil).

Tahun 2017, memiliki target pertumbuhan pendapatan sebesar 5,3% atau sejumlah 119,4M. Berarti rencana pendapatan tahun 2017 adalah sebesar 2.372,4M. 

Pada Q3 2017, BMSR mencatat penjualan sebesar 1.924M terdiri dari:
  1. Kimia sebesar 1.891,6M, berarti volume penjualannya sebesar 593 juta ton
  2. Beras sebesar 32M, berarti volume penjualannya sebesar 3,07 juta ton.

Jika pendapatan pada Q3 2017 sebesar 1.924M kita setahunkan maka akan diperoleh pendapatan sebesar 2.565,3M atau naik sebesar 13,8% dari pendapatan 2016. Berarti jauh diatas rencana yang hanya sebesar 5,3%.

Dengan pendapatan sebesar 2.563,3M jika kita asumsikan perbandingan laba kotor dengan pendapatan adalah sebesar 6,7% (sama dengan q3 2017) maka laba kotornya adalah sebesar 171,74M. 

Beban usaha q3 2017 sebesar 94,6M jika disetahunkan menjadi 126,1M sehingga laba usahanya 45,64M. Kemudian beban lain lain 33,9M yang jika disetahunkan menjadi 44M sehingga kemungkinan laba di akhir tahun adalah sebesar 1,64M dengan EPS sebesar 1,4 per lembar.



Yang menarik tentu saja bukan hanya itu. 

Bagian lain yang lebih menarik adalah sebagai berikut:
  1. Blok pendopo memiliki cadangan minyak 3 jt barel dan mampu memproduksi 450 barel per hari atau 164.250 barel per tahun. Jika kita asumsikan harga minyak 55 usd per barel, maka dalam setahun bisa menghasilkan pendapatan sebesar 9,04 juta usd atau sekitar 122M per tahun
  2. BMSR hanya memasarkan produk PT Padi Unggul Indonesia untuk di jawa tengah dengan pendapatan sebesar 32M di q3 2017. Bisa dibayangkan untuk kedepan BMSR akan memperluas pemasaran diluar jawa tengah, mungkin pendapatan akan berlipat.
  3. Untuk produk kimia, dengan semakin lancarnya jalur distribusi baik darat maupun laut akan dapat menekan beban secara maksimal sehingga dapat meningkatkan laba dikemudian hari. 
  4. Yang keren adalah Bittlestone Capital Inc (100%) yang memiliki investasi pada perusahaan tambang minyak dan gas besar. Salah satunya adalah Serinus energy Inc yang merupakan perusahaan gabungan antara Kulczyk oil ventures inc dengan winstar dengan kepemilikan 1,39%  (sebelumnya 2,28% di Kulczyk dan menjadi 1,39% setelah penggabungan). Saat ini Serinus sedang membangun 15 fasilitas pengolahan gas di rumania dan akan mulai produksi pada q1 2018. Disamping itu juga memiliki tambang  beberapa tambang minyak dan gas di Tunisia.  Perusahaan besar lainnya adalah Blacktip energy limited dengan kepemilikan 0,24%.

Mungkin hanya ini yang bisa ditulis, lebih dan kurang mohon dimaafkan. 




No comments: