Analisis PT Kirana Megatara Tbk (Saham KMTR)

KMTR, Raja Karet Remah Indonesia





Awalnya, saya tertarik dengan produsen karet remah yaitu pada saat Rusia menunjukan ketertarikan dengan produk ini dan akan melakukan imbal dagang dengan produk senjata Rusia seperti pesawat sukhoi SU 35 ataupun yang lainnya. Jika ini sukses terlaksana, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan secara berkelanjutan untuk produk produk lain dari Rusia yang akan ditukar dengan karet remah indonesia.

Indonesia sendiri adalah penghasil karet terbesar no 2 di dunia (setelah Thailand). Dan saat ini pemerintah sedang gencar menggenjot produksi dan memasarkan produk produk itu di luar negeri, untuk membuka peluang menjadi penghasil karet terbesar di dunia.

KMTR sendiri merupakan penghasil karet remah terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar lebih dari 18%.


SEJARAH

KMTR merupakan bagian dari kelompok usaha Triputra Group, yang didirikan pada tahun 1964 dengan nama PT Waras yang kemudian berganti nama menjadi PT Djambi Waras. Kemudian pada tahun 1991, Menjadi PT Kirana Megatara.

Berdasarkan anggaran dasar, perusahaan memiliki ruang lingkup pekerjaan dalam bidang Perdagangan, perindustrian, jasa dan konsultasi. 

Secara umum, KMTR bergerak dalam bidang pabrik Crumb Rubber (karet remah) dengan kapasitas pabrik mencapai 720.000 ton per tahun dan perkebunan karet dan sawit dengan lahan seluas 30.000 hektar.




DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI

Komisaris Utama : Toddy Mizaabianto
Komisaris Utama : Sugoto
Komisaris : Arif Rahmat
Komisaris Independen : Tonny Hermawan

Direktur Utama : Martinus Subandi
Direktur Utama : Sinarya
Direktur : Jenny Widjaja
Direktur : Daniel Tirta Kristiadi
Direktur Independen : Achmad Effendi


PEMEGANG SAHAM
  1. PT Triputra Investindo Arya sebesar 3.649.393.700 (47,6%)
  2. HSF (S) Pte Ltd sebesar 3.457.331.300 (45%)
  3. Publik (<5%) sebesar 576.225.000 (7,5%)


SEJARAH PENCATATAN SAHAM
  1. IPO @ 458 sebesar  1.152.450.000 tanggal 19 Juni 2017
  2. Saham pendiri sebesar 6.530.500.000 tanggal 19 Juni 2017





ANAK USAHA

A. Pabrik Karet Remah

  1. PT. Djambi waras (100%), berlokasi di Jambi
  2. PT Nusira (100%), berlokasi di Sumatera Utara
  3. PT Kirana Musi persada (100%), berlokasi di Sumatera selatan
  4. PT Tirta Sari Surya (100%), berlokasi di Riau
  5. PT Kirana Windhu (100%), berlokasi di Sumatera Selatan
  6. PT Kirana Sapta (100%) berlokasi di Sumatera Utara
  7. PT Anugerah Bungo Lestari (100%), berlokasi di Jambi
  8. PT Kirana Permata (100%), berlokasi di Sumatera selatan
  9. PT Kirana Prima (100%), berlokasi di Kalimantan Barat
  10. PT New Kalbar Processors (100%), berlokasi di Kalimantan Barat
  11. PT Pantja Surya (100%), berlokasi di Sumatera Utara
  12. PT Komering Jaya Perdana (100%), berlokasi di Lampung
  13. PT Kirana Putera Karya (100%), berlokasi di Kalimantan Barat
  14. PT Karini Utama (100%), berlokasi di Bangka Belitung
  15. PT Kirana Borneo Tangkiling (99%), Berlokasi di kalimantan Tengah
  16. PT Kirana Sanggam Balangan (99%), Berlokasi di Kalimantan Selatan
  17. PT Kirana Sorolangun (99,96%), berlokasi di Jambi
  18. PT Komering Agro Industri (99,97), berlokasi di Lampung
  19. PT Kirana Tebo (99,96%), berlokasi di Jambi

B. Agro Bisnis
  1. PT Kirana Putra Persada (100%), berlokasi di Jakarta
  2. PT Putra Katingan Pratama (100%), berlokasi di Sampit
  3. PT Anugerah Alam Persada (100%), berlokasi di Jakarta
  4. PT Kilau Getah Kemuning (100%), berlokasi di Jakarta
  5. PT Tisma Perdana Mandiri (100%), berlokasi di Jakarta
  6. PT Panen Subur Abadi (100%), berlokasi di jakarta




PANDANGAN MASA DEPAN

KMTR memiliki beberapa rencana bisnis, antara lain :
  1. Saat ini KMTR memiliki kapasitas pabrik karet remah sebesar 720.000 ton per tahun.
  2. Pada tahun 2017 kapasitas produksi akan ditingkatkan menjadi 780.000 ton per tahun
  3. Dalam beberapa tahun kedepan kapasitas produksi akan terus ditingkatkan hingga mencapai 1.000.000 ton per tahun.

Pada umumnya, pabrik karet remah memperoleh bahan baku dari perkebunan rakyat. Dengan terus membaiknya harga karet, maka secara otomatis membuat masyarakat juga bersemangat untuk mengambil getah karet sehingga pasokan bahan baku semakin meningkat. Adapun harga karet sampai November 2017 sekitar 2 usd per kilogram, jauh lebih baik dari harga 2016 sekitar 1,37 usd per kilogram. 

Karet juga memiliki siklus daun gugur yang terjadi antara bulan Juli sampai Oktober yang mengakibatkan berkurang nya hasil getah karet. Kemungkinan dengan terlewatinya siklus itu, di Q4 pasokan bahan baku akan lebih baik dibandingkan Q3 2017.




Berapa pendapatan jika produksi dimaksimalkan sampai batas kapasitas produksi?

Saat ini KMTR memiliki kapasitas produksi sebesar 720.000 ton per tahun dan akan ditingkatkan menjadi 780.000 ton sampai akhir tahun 2017.

Pada Q3 2017, KMTR memproduksi karet remah sebesar 399.482 ton dengan pendapatan sebesar 9.402M. Sehingga harga rata rata per ton sebesar 9.402M / 399.482 ton = 23,54 juta per ton.

Jika produksi dimaksimalkan sampai batas kapasitas sebesar 780.000 ton maka pendapatannya adalah sebesar 780.000 x 23,54 juta = 18.361M (18,36T). Dengan NPM sebesar 4% maka labanya sebesar 734,4M dan EPS sebesar 95,4 per lembar saham.




Berapa perkiraan pendapatan akhir tahun 2017?

Pada Q3 2017, pendapatan KMTR sebesar 9.465M terdiri dari:
  1. Barang jadi 9.402M
  2. Bahan baku karet 30M
  3. sawit 15,6M

Jumlah produksi pada Q3 2017 adalah sebagai berikut:
  1. Barang jadi sebesar 399.482 ton
  2. Bahan baku karet sebesar 1.482 ton
  3. Sawit sebesar 8.856 ton

Sampai akhir 2017, KMTR berencana akan meproduksi karet remah sebesar 500.000 ton. Jika kita asumsikan harga rata rata karet remah sebesar 23,54 juta per ton maka pendapatannya adalah sebesar 11,77T di akhir tahun 2017. Dengan asumsi NMP sebesar 4% maka laba menjadi 470,8M dan EPS sebesar 61,1 per lembar saham.

Tapi, Jika kita lihat produksinya per tiga bulan yaitu sampai Q3 2017 produksi karet remah 399.482 ton. Sampai Q2 2017 produksinya adalah sebesar 262.396 ton maka pada Q3 produksinya adalah 399.482 ton - 262.396 ton = 137.086 ton. Rata rata produksi 3 bulan pada Q2 dan Q1 adalah 262.396 ton / 2 = 131.198 ton.

Jadi perkiraan produksi karet remah sampai akhir 2017 adalah 399.482 ton + 131.198 = 530.680 ton atau dibulatkan 530.000 ton dan ini lebih besar dari target manajemen sebesar 500.000 ton. Sehingga pendapatannya adalah 530.000 ton x 23,54 juta per ton = 12,48T dengan asumsi NPM 4% maka laba adalah sebesar 499,2M atau hampir 500 milyar dan EPS sebesar 65 per lembar saham dan ini belum termasuk pendapatan dari perkebunan karet dan sawit.

Disamping itu, hal hal yang kemungkinan akan mendongkrak laba di akhir 2017 adalah sebagai berikut :
  1. Terus meningkatnya harga karet dunia, sehingga akan meningkatkan pasokan bahan baku dan secara otomatis juga meningkatkan harga jual karet remah
  2. Berakhirnya siklus gugur daun di bulan Oktober sehingga kemungkinan pasokan bahan baku untuk Q4 akan lebih besar daripada Q3 sehingga akan meningkatkan produksi karet remah di Q4 2017.
  3. Ketertarikan rusia dengan karet remah indonesia untuk di barter dengan produk milliter rusia sehingga akan menambah pasar ekspor untuk karet remah.

Mungkin hanya ini yang bisa disampaikan, lebih dan kurang mohon dimaafkan. Dan ini bukan ajakan beli ya karena keputusan beli ada di tangan masing masing.


No comments: