Analisis saham BRPT VS Star Energy

Seberapa besar pengaruh Star Energy jika menjadi milik BRPT?






PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berencana untuk mengakuisisi saham Star Energy Group Holding Pte Ltd dari dua pemegang sahamnya yaitu Star Energy Investment Ltd dan SE Holding Limited. Ini merupakan transaksi afiliasi karena Baik Barito Pacific, Star Energy Investment maupun SE holding berada dibawah pengendali yang sama yaitu Prajogo Pangestu.

Star energy sendiri merupakan pengelola pembangkit listrik tenaga panas terbesar di Indonesia dan terbesar kedua di dunia (setelah Calpine Corp yang memproduksi panas bumi dengan kapasitas 945MW di amerika).


ASET ASET STAR ENERGY

A. Minyak dan Gas
  1. PSC Kakap, terletak di laut Natuna atau 486 km timur laut Singapura, memiliki ladang minyak dan gas yang dioperasikan dari empat platform dengan 6 subsie back. PSC kakap memproduksi  minyak dan kondenst sebesar 3.700 barel per hari serta memproduksi gas alam sebesar 42 juta kaki kubik setiap hari. Semua minyak dan kondensat disalurkan ke unit floting storage dan offloading untuk diproses dan disimpan untuk selanjutnya dipindahkan ke kapal tangker untuk di ekspor. sedangkan gas alam dikirim melalui jalur bawah laut sistem transportasi natuna barat ke Singapura.
  2. PSC Sebatik, terletak di cekungan tarakan dekat malaysia yang mencakup area seluas 1.385 km persegi dimana 35% di darat dan 65% di laut. Saat ini masih dalam tahap eksplorasi.
  3. PSC Sekayu, berlokasi di sumatra selatan dan saat ini masih dalam tahap eksplorasi



B. Panas Bumi
  1. Wayang Windu Energy Geothermal, berlokasi di bandung jawa barat dan dioperasikan oleh anak usaha Star energy yaitu Star Energy Geothermal (wayang windu) Limited. Wayang windu sendiri merupakan kerjasama antara Star energy dengan Pertamina dan PLN untuk mengembangkan sumber daya panas di area kontrak seluas 12.960 hektar. Star energy sendiri memiliki hak untuk mengembangkan pembangkit listrik dengan kapasitas sampai 400 MW. Saat ini Wayang windu mengoperasikan beberapa PLTP yaitu: unit pertama, dengan kapasitas 110 MW, unit kedua dengan kapasitas 117 MW dan unit tiga dengan kapasitas 127 MW. Jadi total kapasitas PLTP adalah sebesar 354 MW yang sudah berproduksi penuh (beban terpakai 98%).
  2. Star Energy Geothermal Salak Ltd, berlokasi 70 km dari Jakarta, merupakan kerjasama antara Star Energy, Pertamina dan PLN. Star energy salak memasok uap panas bumi untuk menghasilkan listrik dari pembangkit 180 MW yang dioperasikan oleh PLN. Disamping itu juga memasok uap panas bumi dan mengoperasikan pembangkit listrik dengan kapasitas 197 MW untuk jawa, madura dan bali. Saat ini pasokan panas bumi untuk PLN mencapai kapasitas 377 MW.
  3. Star Energy Derajat II Limited, terletak di Garut, Jawa Barat yaitu memasok uap panas ke pembangkit PLN dengan kapasitas 55 MW serta memasok uap panas dan mengoperasikan pembangkit dengan kapasitas 216 MW untuk Jawa, Madura dan Bali.

C. Coal Bed Methana (CBM) atau Coal Seam Gas, yang merupakan sejenis hidrokarbon yang mengandung Methana. Pada tanggal 5 September 2012, menteri ESDM menyerahkan konsorsium Star Energy CBM (sekayu) Ltd dan Ephindo Sekayu 2 Inc untuk melakukan eksplorasi untuk mengembangkan ladang Coal bed methana GMB sekayu 2 dengan luas 451 kilometer persegi di Sumatera Selatan. Saat ini masih dalam tahap eksplorasi.



BERAPA PERKIRAAN TAMBAHAN PENDAPATAN DARI STAR ENERGY?


A. Minyak Dan Gas

Dari minyak dan gas, yang berproduksi adalah PSC kakap yaitu minyak dan kondensat sebesar 3.700 barel per hari atau 1.350.500 barel per tahun. Jika asumsi harga minyak adalah sebesar 45 usd per barel maka pendapatannya adalah sebesar 60,77 jt usd per tahun.

PSC Kakap juga memproduksi gas alam sebesar 42 juta kaki kubik per hari atau sebesar 1,19 juta meter kubik per hari (1kaki kubik = 0,0283 m3) atau 15,37 juta MMbtu per tahun (1 MMbtu = 28,26 m3). Dengan asumsi harga 3 usd per MMbtu maka pendapatannya adalah sebesar 15,37 juta MMbtu x 3 usd = 46,1 juta usd per tahun.

Perlu diketahui Bahwa PSC (Production Sharing Contract) merupakan mekanisme pengelolaan migas antara pemerintah dengan kontraktor. Jika kita cek PSC agreement di indonesia yaitu PSC Agreement generasi ke 4 (1994-2001) bahwa skema bagi hasil untuk PSC adalah 73,22% untuk pemerintah dan 26,78% untuk kontraktor.

Pendapatan dari minyak dan gas adalah sebesar 60,77 juta usd + 46,1 juta usd = 106,87 juta usd. Dengan menerapkan PSC agreement maka pendapatan star energy adalah sebesar 26,78% x 106,87% = 28,62 juta usd.



B. Wayang Windu Energy Geothermal

Mengoperasikan PLTP dengan kapasitas 354 MW. Dengan beban terpakai sebesar 98% maka energi yang dihasilkan pertahun adalah sebesar 354 x 1000 x 24 x 365 x 98% = 3.039.019.200 kwh per tahun.

Dengan asumsi harga uap panas adalah sebesar 6 sen usd maka pendapatan dari uap panas adalah sebesar 6/100 x 3.039.019.200 = 182,3 juta usd.

Dari penjualan listrik ke PLN asumsi harga 9,4 sen usd maka pendapatannya adalah sebesar 9,4/100 x 3.039.019.200 = 285,7 juta usd.

Jika ditotal dari Wayang Windu sebesar 182,3 juta usd + 285,7 juta usd = 468 juta usd.



C. Star Energy Geothermal Salak Ltd

Memasok Uap panas ke 377 MW pembangkit PLN. Jika kita asumsikan beban 80% maka energi yang dihasilkan adalah sebesar 377 x 1000 x 24 x 365 x 80% = 2.642.016.000 kwh. Dengan asumsi harga uap panas 6 sen usd maka pendapatannya adalah sebesar 6/100 x 2.642 juta kwh =  158,5 juta usd.

Disamping itu juga memasok uap panas dan mengoperasikan pembangkit dengan kapasitas 197 MW. Jika asumsi beban terpakai 80% maka energi yang dihasilkan per tahun 197 x 1000 x 24 x 365 x 80% = 1.380 juta kwh. Dari penjualan uap panas pendapatan 1.380 juta kwh x 6/100 = 82,8 juta usd.

Dari penjualan listrik pendapatannya adalah sebesar 1.380 juta kwh x 9,4/100 = 130 juta usd.

Total dari Star Energy geothermal Salak adalah sebesar 158,5 jt + 82,8 jt + 130 jt = 370,8 juta usd.



C. Star Energy Geothermal Derajat II Limited

Memasok uap panas ke 55 MW pembangkit PLN. Jika kita asumsikan beban terpakai 80% maka energi yang dihasilkan 55 x 1000 x 24 x 365 x 80% = 385,4 juta kwh. Dengan harga uap panas 6 sen maka pendapatan 6/100 x 385,4 jt kwh = 32,1 juta usd.

Disamping itu juga memasok uap panas dan mengoperasikan pembangkit dengan kapasitas 216 MW. Dengan asumsi beban terpakai 80% maka energi yang dihasilkan 216 x 1000 x 24 x 365 x 80% = 1.513 juta kwh. Penjualan uap panas adalah 1.513 juta kwh x 6 sen = 90,8 juta usd.

Dari penjualan listrik pendapatan sebesar 1.513 juta kwh x 9,4 sen = 142,2 juta usd.

Total dari Star Energy Geothermal Derajat II Limited sebesar 32,1 jt + 90,8 jt + 142,2 jt = 265,1 juta usd per tahun.


Nah, Jika kita total semua pendapatan baik dari Minyak dan Gas, Penjualan uap panas maupun dari penjualan listrik maka pendapatan totalnya adalah sebesar 28,62 juta + 468 juta + 370,8 juta + 265,1 juta = 1.132,5 juta usd. Dengan asumsi usd = 13.500 maka pendapatan dalam rupiah adalah sebesar 15,28 T.

Jadi, Jika BRPT merampungkan akuisisi Star Energy, maka akan ada tambahan pendapatan sebesar 15,28T.

Mungkin hanya ini yang bisa di tulis, lebih dan kurang mohon dimaafkan.


No comments: