Analisis PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (saham TPIA)

TPIA, SI RAJA PETROKIMIA INDONESIA




SEJARAH

TPIA merupakan penggabungan antara PT Tri Polyta Indonesia Tbk dengan PT Candra Asri pada tahun 2011. PT Tri Polyta sendiri merupakan produsen Polypropylene terbesar di Indonesia yang didirikan pada tahun 1984. Sedangkan PT Candra Asri merupakan produsen Olefins dan Polyethylene yang didirikan pada tahun 1989.

Berdasarkan anggaran dasar, TPIA memiliki ruang lingkup pekerjaan dalam bidang usaha industri petrokimia, perdagangan, angkutan dan jasa.


ANAK USAHA

A. PT Styrindo Mono Indonesia (SMI/99,99%)

SMI didirikan pada tahun 1991 dan merupakan satu satunya produsen Styrene monomer di Indonesia. SMI sendiri memiliki anak usaha yaitu 
  1. PT Redoco Petrolin Utama (RPU/50,75%). RPU didirikan pada tahun 1980 bergerak dalam bidang penyewaan tangki penyimpanan dan jasa pengelolaan jetty untuk produk produk kimia. RPU juga menangani produk minyak olahan untuk perusahaan lokal maupun international.
  2. PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI/45%). SRI merupakan perusahaan patungan antara SMI dengan Michelin untuk memproduksi karet sintetis yang merupakan bahan utama untuk membuat ban. Pabriknya sendiri sudah dibangun sejak tahun 2016 dan diperkirakan akan beroperasi pada awal 2018.



B. PT Petrokimia Butadiene Indonesia (PBI/99,98%)


PBI didirikan pada tahun 2010 dan merupakan satu satu nya produsen Butadiene di indonesia.

C. PT Altus Capital Pte Ltd (100%) yang bergerak dalam bidang investasi.


PRODUK

A. Olefin, terdiri dari
  1. Ethylene
  2. Propylene
  3. Py-gas
  4. Mixed C-4
B. Polyolefin, terdiri dari
  1. Polyethylene dengan merek dagang Asrene dan Grene
  2. Polypropylene dengan merek dagang Trilene
C. Styrene Monomer
D. Butadiene


PABRIK

A. Melalui PT Styrindo Mono Indonesia (SMI)
  1. Pabrik Naphtha Cracker Kapasitas 860.000 MT per tahun 
  2. Pabrik Polyethylene Kapasitas 336.000 MT per tahun
  3. Pabrik Polypropylene kapasitas 480.000 MT per tahun
  4. Pabrik Styrene Monomer Kapasitas 340.000 MT per tahun
B. Melalui PT Petrokimia Butadiene Indonesia (PBI)
  1. Pabrik Butadiene kapasitas 100.000 MT per tahun
C. Melalui PT Syntetic Rubber Indonesia (SRI) yang merupakan anak usaha SMI
  1. Pabrik Syntetic rubber kapasitas 120.000 MT per tahun (operasi 2018)


PROSES PRODUKSI TPIA



Naphtha, LPG dan Kondensate yang merupakan produk turunan dari minyak bumi di olah di pabrik Naphtha Cracker. Setelah diolah akan dihasilkan Olefins yaitu Py-Gas, Mixed C-4, Ethylene dan propylene.

Py-Gas langsung dijual untuk pasar ekspor.

Propylene diolah di pabrik Polypropylene dan menghasilkan Polypropylene dan langsung dijual dengan merek dagang Trilene

Ethylene diolah di pabrik Styrene Monomer dan menghasilkan Styrene Monomer dan Polyethylene. Polyethylene sendiri di jual dengan merek dagang Asrene dan Grene.

Polyethylene dan Polypropylene merupakan Polyolefins

Selanjutnya Mixed C-4 diolah di pabrik Butadiene dan menghasilkan Butadiene dan Raffinate-1.

Nantinya, Butadiene, Reffinate-1 dan Styrene Monomer akan diolah di pabrik sintetic rubber untuk menghasilkan Syntetic rubber.




PENDAPATAN DAN PRODUKSI 2016

Pada tahun 2016 pendapatan perusahaan dapat dikatagorikan sebagai berikut:
  1. Ethylene kapasitas 860 KT, Produksi 771 KT, volume terjual 380,8 KT, pendapatan 375,2 jt usd dengan harga 985 usd per MT
  2. Propylene kapasitas 470 KT, produksi 416 KT, volume terjual 153,2 KT, pendapatan 109,1 jt usd dengan harga 713 usd per MT
  3. Py-Gas kapasitas 400 KT, produksi 237, volume terjual 236 KT, pendapatan 106,4 jt usd dengan harga 452 usd per MT
  4. Mixed C-4 kapasitas 315 KT, produksi 249 KT, volume terjual 0, pendapatan 19,2 jt usd (merupakan kelebihan produksi tahun 2015)
  5. Polyethylene kapasitas 336 KT, produksi 329 KT, volume terjual 316 KT, pendapatan 387,9 jt usd dengan harga 1.228 usd per MT
  6. Polypropylene kapasitas 480 KT, produksi 428 KT, volume terjual 427 KT, pendapatan 496,8 jt usd dengan harga 1.167 usd per MT
  7. Styrene Monomer kapasitas 340 KT, produksi 276 KT, volume terjual 282,4 KT, pendapatan 289,2 jt usd, dengan harga 1.032 usd per MT
  8. Butadiene kapasitas 100 KT, produksi 202 KT (Butadiene 88 KT, lainnya 114 KT), volume terjual 202 KT, pendapatan 139,3 jt usd dengan harga 690 usd per MT

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa :
  1. Ethylene diproduksi sebesar 771.000 MT dan dijual sebesar 380.800 MT. Jadi volume yang terpakai adalah sebesar 390.000 MT yang menghasilkan Styrene monomer sebesar 276.000 MT dan Polyethylene sebesar 329.000 MT. Berarti 1 MT Ethylene akan menghasilkan 0,7 MT Styrene monomer dan 0,8 MT polyethylene.
  2. Propylene diproduksi sebesar 416.000 MT dan dijual sebesar 153.200 MT. Jadi volume yang terpakai adalah sebesar 262.800 MT yang menghasilkan Polypropylene sebesar 428.000 MT. Berarti 1 MT Propylene menghasilkan 1,6 MT Polypropylene.
  3. Mixed C-4 diproduksi sebesar 249.000 MT dan menghasilkan Butadiene sebesar 88.000 MT dan produk lain sebesar 114.000 MT. Berarti 1 MT Mixed C-4 menghasilkan 0,35 MT Butadiene dan 0,45 MT produk lain.

Tapi hitungan ini hanya memasukan material yang memang menjadi produk penjualan TPIA. 


PANDANGAN MASA DEPAN



Produksi petrokimia TPIA sifatnya saling berkaitan satu dengan yang lain. Apalagi jika pabrik karet sintetis selesai dikerjakan maka pokus utamanya tentu untuk menghasilkan serat sintetis kecuali ada kelebihan produksi. Dari data tahun 2016, produk Ethylene dan Propylene yang dijual sebenernya adalah kelebihan produksi. Dalam artian kapasitas pabrik yang menggunakan Ethylene dan Propylene sebagai bahan utama masih kurang.


Berapa pendapatan TPIA jika seluruh kapasitas pabrik di maksimalkan?

A. Butadiene dengan kapasitas 100 KT maka membutuhkan Mixed C-4 sebesar 285 KT dan akan menghasilkan produk lain sebesar 128 KT. Kapasitas Mixed C-4 sebesar 315 KT berarti ada kelebihan volume sebesar 30KT. Pendapatannya menjadi :
  1. Butadiene dan produk lain sebesar 228.000 MT x 690 usd = 157,32 jt usd
  2. Mixed C-4 diabaikan karena volume kecil

B. Styrene monomer dengan kapasitas 340 KT membutuhkan Ethylene sebesar 485 KT dan akan menghasilkan Polyethylene sebesar 388 KT. Kapasitas Ethylene sendiri adalah sebesar 860 KT sehingga ada kelebihan sebesar 375 KT. pendapatannya menjadi:
  1. Ethylene sebesar 375.000 MT x 985 usd = 369,3 jt usd
  2. Styrene Monomer sebesar 340.000 MT x 1.032 usd = 350 jt usd
  3. Polyethylene sebesar 388.000 MT x 1.228 usd = 476,5 jt usd

C. Polypropylene dengan kapasitas 480 KT membutuhkan Propylene sebesar 300 KT. Kapasitas propylene sendiri adalah sebesar 470 KT jadi ada sisa produksi sebesar 170 KT. pendapatannya menjadi :
  1. Polypropylene sebesar 480.000 MT x 1.167 usd = 560 jt usd
  2. propylene sebesar 170.000 MT x 713 usd = 121 jt usd

D. Py-gas memiliki kapasitas produksi sebesar 400.000 MT x 452 usd = 181 jt usd

Nah, jika ditotal seluruh pendapatan apabila produksinya dimaksimalkan sesuai kapasitas akan menjadi sebesar 2.215,12 juta USD dan apabila dirupiahkan dengan asumsi usd = 13.300 akan menjadi sebesar 29,5 T. Dengan asumsi NPM adalah sebesar 17% maka laba yang akan diperoleh adalah sebesar 5,02 T dan EPS setelah RI adalah sebesar 1.407 per lembar (saham edar setelah RI 3.566.704.052)

Maksud dari menghitung pendapatan total jika produksi dimaksimalkan sesuai kapasitas adalah bahwa pendapatan tidak akan mungkin melebihi pendapatan tersebut terkecuali ada penambahan kapasitas pabrik ataupun peningkatan harga jual produk.




Bagaimana pendapatan TPIA di tahun 2017?

Untuk tahun 2017, menurut penulis tidak akan terjadi peningkatan yang signifikan. hal ini dikarenakan produksi yang terjadi di tahun 2016 sudah mendekati kapasitas pabrik. Kecuali di tahun 2017 ada peningkatan harga produk petrokimia. 

Ditahun 2017 mungkin tidak akan ada pendapatan dari sisa produksi Mixed C-4 karena semua Mixed C-4 terpakai untuk memproduksi butadiene. Pada tahun 2016 terdapat penjualan Mixed C-4 karena ada kelebihan produksi tahun 2015 dan itupun dikarenakan adanya perawatan mesin.

Jika berasumsi pendapatan 2017 sama dengan 2016 maka jumlahnya akan menjadi 1.884,7 jt usd (pendapatan dari Mixed C-4 dianggap 0). Jika asumsi nilai tukar usd adalah 13.300 maka pendapatannya adalah sebesar 25,06T dan dengan asumsi NPM adalah 17% maka laba menjadi 4,26T dan EPS menjadi 1.194 per lembar.


RENCANA JANGKA PANJANG TPIA



Rumit nya bisnis Petrokimia yang terintegrasi adalah dalam meningkatkan kapasitas pabrik. Seperti TPIA jika berniat meningkatkan kapasitas produk harus diimbangin dengan kapasitas produk lainnya.

TPIA memiliki beberapa rencana ekspansi untuk beberapa tahun kedepan antara lain:
  1. Kerjasama membangun pabrik dengan Michelin yang diperkirakan beroperasi pada awal 2018, yang memproduksi Styrene Butadiene rubber kapasitas 80.000 MT dan Poly Butadiene rubber kapasitas 40.000 MT. 
  2. Pabrik Butadiene akan ditingkatkan dari 100.000 MT menjadi 137.000 MT dengan anggaran 42 juta usd dan diperkirakan beroperasi pada Q2 2018
  3. Meningkatkan kapasitas Naphtha Cracker dengan anggaran 45 juta usd yang beroperasi pada Q1 2020 
  4. Pabrik Polyethylene akan ditingkatkan kapasitasnya dari 336.000 MT menjadi 736.000 MT dengan anggaran 356 juta usd dan perkiraan beroperasi pada Q4 2019
  5. Pabrik Polypropylene akan ditingkatkan kapasitasnya dari 480.000 MT menjadi 590.000 MT dengan anggaran 15 juta usd
  6. Diversifikasi produk baru yaitu Methyl tertyary buthyl ether kapasitas 128.000 MT dan Butene-1 kapasitas 43.000 MT yang diperkirakan operasi pada Q2 2020 dengan anggaran 100 juta usd
  7. Membangun kompleks petrokimia kedua yang diperkirakan menelan biaya sebesar 455 juta usd.

Dengan raihan dana dari Right issue sebesar 5.04 T atau sebesar 379 juta usd (asumsi usd 13.300) maka rencana yang paling mungkin dilaksanakan dalam waktu dekat adalah nomer 2-4 karena terintegrasi. Dan jika no 2-4 ditotal kebutuhan dananya adalah sebesar 459 jt usd atau masih diatas raihan dana dalam Right issue 2017 yang sebesar 379 juta usd.




LOGIKAMOLOGI RENCANA EKSPANSI TPIA

Untuk mencapai keseimbangan ekspansi dapat kita logikakan sebagai berikut :
  1. Jika TPIA berniat meningkatkan kapasitas butadiene menjadi 137.000 MT maka kapasitas Mixed C-4 juga harus ditingkatkan menjadi 137.000 MT/0,35 = 392.000 MT (kapasitas saat ini 315.000 MT).
  2. Jika Polyethylene ditingkat kapasitasnya menjadi 736.000 MT maka kapasitas pabrik Ethylene harus ditingkatkan menjadi 736.000 MT / 0,8 = 920.000 MT (kapasitas saat ini 860.000 MT) dan Styrene monomer harus ditingkatkan kapasitasnya menjadi 920.000 MT x 0,7 =  644.000 MT (kapasitas saat ini 340.000 MT)
  3. Jika Polypropylene ditingkatkan kapasitasnya menjadi 590.000 MT maka kapasitas Propylene haruslah diatas 590.000 MT / 1,6 = 368.750 MT ( kapasitas saat ini 470.000 MT). Ini masih aman ya.

Jadi jika meningkatkan kapasitas Butadiene (137 KT), Polyethylene (736 KT), Polypropylene (590 KT) maka kapasitas produk lainnya juga harus ditingkatkan yaitu :

  • Naphtha Cracker menjadi 920 KTA (killo ton per annum / kilo ton per tahun)
  • Ethylene menjadi 920 KTA
  • Propylene bisa tetap 470 KTA (kebutuhan 370 KTA)
  • Mixed C-4 menjadi 392 KTA
  • Styrene Monomer menjadi 644 KTA

Yang jelas pendapatan di tahun 2018 mendatang baru akan terlihat terjadi peningkatan yang signifikan karena beroperasinya pabrik serat sintetis dan peningkatan kapasitas pabrik butadiene.

Mungkin hanya ini yang bisa ditulis, lebih dan kurangnya mohon di maafkan.





No comments: