PT Ricky Putra Globalindo Tbk (saham RICY)

RICY, Raja Underwear Indonesia




Berdasarkan laporan Brand performance survey dari marketing and research top branch, GT man menguasai 48% pangsa pasar pakaian dalam pria di indonesia. Dengan banyaknya produk GT Man di toko toko diseluruh indonesia, rasanya sangat benar hasil survey tersebut.

Sebagian besar anak usaha RICY bergerak dalam bidang distribusi produk produk perusahaan di seluruh indonesia bahkan mancanegara. Dengan adanya berbagai proyek infrastruktur pemerintah akan sangat menguntungkan perusahaan dalam mendistribusikan produknya di berbagai wilayah.

RICY juga termasuk salah satu perusahaan yang rajin membagi deviden setiap tahun. Rasanya dengan pembagian deviden yang dilakukan oleh perusahaan, menandakan bahwa manajemen RICY memiliki perhatian yang lebih terhadap para investor.


SEJARAH

RICY didirikan pada tahun 1987, yang memiliki ruang lingkup pekerjaan dalam bidang industri pembuatan pakaian dalam dan pakaian jadi. Perusahaan sendiri mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1988.


DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI

Presiden Komisaris : Andrian Gunawan
Komisaris : Victor Richard Franziskus
Komisaris Independen : Subandi Sihman

Presiden Direktur : Paulus Gunawan
Direktur : Tirta Heru Citra
Direktur : Charlie Nawawi
Direktur Independen : Iwan


PEMEGANG SAHAM

  1. Spanola Holding Ltd sebesar 125.000.000 (19,48%)
  2. PT Ricky Utama Raya sebesar 99.192.100 (15,46%)
  3. Denzin International Limited sebesar 84.095.500 (13,1%)
  4. Goh Pong Heng sebesar 35.114.500 (5,47%)
  5. Publik dibawah 5% sebesar 298.315.410 (46,49%)


SEJARAH PENCATATAN SAHAM

  1. Saham perdana @600 sebesar 60.000.000 tanggal 22 Oktober 1998
  2. Saham pendiri sebesar 100.000.000 tanggal 22 Oktober 1998
  3. Right issue I sebesar 128.000.000 tanggal 24 Juni 1999
  4. Right issue II sebesar 353.717.510 tanggal 24 Juli 2004




ANAK USAHA


  1. PT Jasa Ricky Abadi (99,92%), lokasi di Medan, Distributor
  2. PT Ricky Jayasakti (95%), lokasi di Surabaya, Distributor
  3. PT Ricky Musi Wijaya (99,8%), lokasi di Palembang, Distributor
  4. PT Ricky Mumbul Daya (51%), lokasi di Semarang, Distributor
  5. PT Ricky Arta Jaya (99,8%), lokasi di Bandung, Distributor
  6. PT Ricky Hansen Cemerlang (90%), lokasi di Jakarta, Distributor
  7. PT Ricky Tekstil Indonesia (60%), lokasi di Bogor, Distributor dan industri pewarnaan pakaian
  8. PT Ricky Garmen Exportindo (90%), lokasi di Bogor, Industri pakaian jadi khusus ekspor
  9. PT RT Mahkota Globalindo (80%), lokasi di Bogor, Distributor dan produsen pakaian jadi.
  10. PT Ricky Gunze (65%), lokasi di Bogor, Distributor
  11. PT Ricky Sportindo (90%), lokasi di Bogor, Distributor
  12. PT Ricky Citra Rasa (80%), lokasi di Jakarta, Restoran
  13. Ricky Putra Globalindo Vietnam Co Ltd, lokasi di Vietnam, Distributor
  14. PT Ricky Kobayashi (51%), lokasi di Jakarta, Distributor




PRODUK



  1. Pakaian dalam merk GT Man, GT Kid, GT Man Sport, GT Ladies, Ricky & Ricsony
  2. Pakaian Jadi merk Avanger, Transformer, Aikatsu, Froze, Barbie dan lain lain


BIDANG USAHA

  1. Pakaian Jadi seperti: pakaian dalam pria, Pakaian jadi, pakaian dalam pesanan khusus
  2. Benang rajut yaitu rajut katun dan TC
  3. Kain rajut
  4. Produk pakaian jadi khusus ekspor
  5. Restoran


PANDANGAN MASA DEPAN



Kapasitas pabrik :
  1. Spinning (benang) sebesar 60.000 bales = 10.900 ton (1 bales = 181,44 kg)
  2. Knitting (kain mentah) sebesar 2.520 ton
  3. Garment sebanyak 30.000.000 potong

Pendapatan 2016 adalah sebesar 1.221,5 M terdiri dari :
  1. Pakaian jadi sebesar 857,2 M sebanyak 41.519.160 potong, Harga rata rata pakaian jadi adalah sebesar 20.600 per potong.
  2. Spinning sebesar 364,2 M sebanyak 5.152 ton (28.300 bales), harga rata rata benang adalah 70,7 juta per ton

Produksi 2016 adalah sebagai berikut:
  1. Spinning, memproduksi katun dan polyester sebesar 39.307 bales = 7.132 ton (65,4% dari kapasitas)
  2. Knitting (perajutan) memproduksi kain mentah sebesar 1.242 ton (49,3% dari kapasitas). Kain mentah ini dipakai untuk memenuhi kebutuhan internal.
  3. Dyeing, merupakan proses pewarnaan.
  4. Garment memproduksi 28.484.640 potong (95% dari kapasitas produksi)

Untuk benang dapat dilihat bahwa RICY tahun 2016 memproduksi benang sebesar 7.132 ton tapi menjual hanya sebesar 5.152,4 ton. Jadi ada kelebihan produksi.

Secara logika, produksi garment sudah mancapai 95% dari kapasitas produksi. Hal ini menandakan bahwa perusahaan perlu membangun pabrik baru. Rencana perusahaan akan membangun pabrik baru di tegal jawa tengah dengan memakai 300 mesih cadangan yang ada dibogor. 

Tahun 2016, produksi pakaian jadi adalah sebesar 28.484.640 potong sedangkan penjualan pakaian jadi tahun 2016 adalah sebesar 41.519.160 potong dengan kapasitas pabrik 30.000.000 potong. Dari mana datangnya produksi sebanyak 13.034.520 potong lagi? perkiraan penulis ya dari 300 mesin cadangan yang akan dibawa ke tegal.

Alasan manajemen membangun pabrik baru adalah karena tingginya upah di bogor (mencapai 3 jt) dibandingkan dengan upah di jawa tengah yang masih berkisar 2 jt. Tapi, penulis belum sepenuhnya percaya kalau ini menjadi alasan utama. Dan ternyata yang paling utama adalah karena produksi pabrik garment sudah mendekati kapasitas pabrik.


Berapa perkiraan kapasitas pabrik baru yang akan dibangun di Tegal, Jawa Tengah?



Secara umum Pabrik RICY adalah usaha yang terintegrasi dari produksi benang, perajutan, pewarnaan dan proses menjadi pakaian. Sehingga perlu ada keseimbangan kapasitas dan produksi baik antara benang, perajutan maupun produksi pakaian jadi. 

Produksi kain mentah perseroan tahun 2016 adalah sebesar 1.242 ton yang menghasilkan pakaian jadi sebanyak 28.484.640 potong. Jadi setiap 1 ton kain mentah menghasilkan pakaian jadi sebanyak 22.934 potong.

Jika kapasitas produksi perajutan dimaksimalkan sebesar 90% dari kapasitas produksi sebesar 2.520 berarti produksinya menjadi 2.268 ton maka akan menghasilkan pakaian jadi sebanyak 52.014.312 potong. 

Nah, Jika penjualan tahun 2016 sebesar 41.519.160 potong baik dari pabrik maupun dari mesin cadangan maka untuk memaksimalkan dan menyeimbangkan antara pabrik perajutan dengan pabrik pakaian jadi maka pabrik baru di tegal harus memiliki kapasitas 52.014.312 - 28.484.640 = 23.529.672 potong per tahun. Jika ini dianggap 95% dari kapasitas maka kapasitas total pabrik baru adalah sebesar 25.000.000 potong per tahun. 

Jika pelaksanannya seperti ini, baru akan diperoleh keseimbangan antara pabrik rajutan dengan pabrik pakaian jadi dan hasil akhirnya bisa menyerap produksi benang lebih banyak dari sebelumnya.

Kita tunggu ya dari pihak manajemen berapa kapasitas pabrik yang akan dibangun di Tegal.


Berapa perkiraan pendapatan di akhir 2017?



Pada Q2 2017 pendapatan RICY adalah 741,5 M dengan rincian sebagai berikut:
  1. Penjualan pakaian jadi sebesar 452,8 M dengan asumsi harga per potong adalah 20.600 maka penjualan pakaian jadi sampai Q2 2017 adalah sebesar 21.980.500 potong. Jika disetahunkan akan menjadi 43.961.000 potong
  2. Spinning sebesar 288,7 M dengan asumsi harga per ton adalah 70,7 juta maka penjualan sampai Q2 2017 adalah sebesar 4.083 ton (22.500 bales). Jika disetahunkan akan menjadi 8.166 ton (45.000 bales)

Jika dibandingkan dengan penjualan di tahun 2016 berarti dari pakaian jadi ada peningkatan sebesar 5,9% sedangkan untuk spinning ada peningkatan sebesar 58,5% di akhir 2017

Manajemen sendiri menargetkan penjualan pakaian jadi naik sebesar 10% di akhir tahun 2017.

Produksi pakaian jadi tahun 2016 adalah 41.519.160 potong. jika naik 10% berarti menjadi 45.671.076 potong x 20.600 per potong = 940,8M.

Dari Spinning jika dianggap produksinya normal sesuai Q2 2017 maka produksinya adalah sebesar 8.166 ton x 70,7 juta = 577,3 M

Berarti total pendapatan rencana 2017 adalah sebesar 1.518,1 M. dengan NPM sebesar 1% maka kemungkinan laba akhir tahun adalah sebesar 15,2 M dan EPS sebesar 25 per lembar.

Begitulah kira kira, lebih dan kurang mohon dimaafkan




No comments: