Dibalik program 35.000 MW

Bagaimana peluang pembangkit listrik swasta?





Pemerintah memang sedang gencar membangun pembangkit listrik di Indonesia. Targetnya pun ngga main main yaitu 35.000 MW untuk tahun 2014 - 2019

Sebenarnya dibalik 35.000 MW yang direncanakan, ada hal penting yang ingin dicapai oleh pemerintah, yaitu:

  1. Rasio elektrifikasi sebesar 100%
  2. Cadangan sebesar 30% dari beban puncak pemakaian.

Mari kita hitung

Penduduk indonesia di tengan tahun 2017 diperkirakan lebih dari 260 juta dengan pertumbuhan 1,49% per tahun. Berarti di akhir tahun sekitar 260 x 1,49% x 0,5 + 260 = 262 juta.

Pemakaian rata rata listrik per kapita adalah sebesar 956 kwh dan direncanakan sebesar 1.058 kwh di akhir 2017. Sebagai pembanding di negara singapur dan malaysia pemakaian listrik rata rata per kapita adalah sebesar 4.000 kwh.

Rasio elektrifikasi atau perbandingan jumlah penduduk yang menikmati listrik dengan total jumlah penduduk saat ini adalah sebesar 91,16% dengan target 92,75% di akhir 2017 dan 97% di akhir 2019. 

Dari data diatas dapat di cek
  1. Diakhir 2017 jumlah penduduk 262 juta. Dengan target rasio elektrifikasi sebesar 92,75% di akhir tahun berarti jumlah penduduk yang belum mendapatkan listrik adalah sebesar (100% - 92,75%) x 262 juta = 19 juta jiwa. 
  2. Jika rata rata pemakaian listrik sampai akhir 2017 sebesar 956 Kwh maka di akhir 2017 energi listrik yang sudah ada adalah sebesar 956 kwh x (262 - 19) juta = 232.308 juta kwh. Energi sebesar ini dihasilkan dari pembangkit sebesar 232.308 juta / 8760 jam = 26.519 MW. Ini dengan asumsi rasio elektrifikasi di akhir 2017 adalah sebesar 92,75% sesuai target pemerintah.

Pemerintah dan PLN menargetkan rasio elektrifikasi 100% akan dapat dicapai tahun 2024. Maka pada tahun 2024 keadaannya adalah sebagai berikut:
  1. Rasio elektrifikasi 100%
  2. Jumlah penduduk tahun 2024 adalah sebesar 290 juta (pertumbuhan 1,49%)
  3. Pemakaian listrik rata rata tahun 2024 adalah sebesar 1.658 Kwh (asumsi pertumbuhan permintaan listrik 7,8% dari 1.058 kwh di akhir 2017)
  4. Kebutuhan listrik tahun 2024 adalah sebesar 290 juta x 1.658 Kwh / 8760 jam = 55.000 MW
  5. Jika rencana pemerintah adalah rasio elektrifikasi 100% dan cadangan 30% maka total kebutuhannya adalah sebesar 71.500 MW. Kita bulatkan menjadi 70.000 MW. (Pas dengan rencana pemerintah 35.000 MW tahun 2014-2019 dan 35.000 MW tahun 2019-2024)

Pembangunan pembangkit sendiri merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu yang panjang. satu pembangkit membutuhkan waktu pembangunan konstruksi minimal 1,5 tahun. Jika rencana pemerintah sampai akhir 2019 adalah 35.000MW dan sampai akhir 2017 ada 26.519 MW maka dalam 2 tahun atau tahun 2018 dan 2019, pemerintah masih harus berjuang untuk membangun 8.481 MW atau 4.240 MW per tahun. 

Dari 35.000 MW yang ingin dicapai pemerintah tahun 2014-2019 sudah direncanakan bahwa akan ada 109 pembangkit dari pemerintah dan PLN dengan total 10.681 MW dan 74 pembangkit swasta dengan total 25.904 MW.

Pemerintah sendiri terlihat sudah mulai kewalahan untuk target 35.000MW sampai tahun 2019. Tahun 2017 target pemerintah hanya sebesar 2.688 MW dan sampai semester I 2017 tercapai sebesar 1.361,6 MW. Bagaimana dengan 7.000 MW setiap tahun yang direncanakan pemerintah diawal? bagaimana dengan kekurangan listrik yang harus dibangun sebesar 8.481 MW sampai akhir 2017 menurut perhitungan? Saya juga tidak tau. hihihihi......

Jadi prospek pembangkit listrik di indonesia masih memiliki peluang yang luebarrr dan bahkan sangat luebarrr....

Jika ada yang menyatakan bahwa konsumsi listrik kita masih sangat rendah hanya sebesar 956 kwh dibandingkan negara tetangga yang sebesar 4.000 kwh maka saya akan jawab bahwa itu karena listriknya ngga ada. 

Kalau secara logikamologi saya bahwa pemerintah menurunkan harga gas dan akan segera membatasi harga batubara untuk konsumsi listrik dengan harapan harga listrik bisa diturunkan, rasanya kurang pas. karena, dengan diturunkannya harga listrik maka secara logika pemakaian listrik rata rata per kapita akan naik dan ini akan menambah kebutuhan listrik nasional sehingga kapasitas yang ada sekarang tambah tidak mencukupi padahal dari pertumbuhan pembangkit sendiri terasa makin jauh dari rencana awal sebesar 7.000 MW per tahun sehingga 35.000MW tercapai dalam 5 tahun. Disamping program 35.000 MW yang dicanangkan pemerintah sampai 2019, sudah ada rencana rasio elektrifikasi sebesar 100% plus cadangan 30% yang menurut hitungan di atas adalah sebesar 70.000MW. Bagaimana? bagaimana? bagaimana?

Pegel nulis, mungkin hanya itu, lebih dan kurang mohon dimaafkan karena ini hanya berdasarkan logika saya.








No comments: