Analisis PT Central Omega Resources Tbk (saham DKFT)

DKFT Dan Kembalinya Kejayaan Masa Lalu






DKFT dijaman keemasannya adalah merupakan salah satu perusahaan yang loyal dalam membagi deviden. Tahun 2012 deviden yang dibagi sebesar 100 per lembar, tahun 2013 jumlah devidennya 50 per lembar dan tahun 2014 deviden yang dibagikan juga sebesar 50 per lembar.

Pada 11 Januari 2014, Presiden dan Menteri ESDM mengeluarkan PP No 1 tahun 2014 yang berbunyi kurang lebih bahwa komoditas tambang mineral logam termasuk produk samping, mineral bukan logam dan batuan tertentu yang dijual ke luar negeri wajib memenuhi batasan minimum pengolahan atau pemurnian. Pemegang IUP dan IUPK operasi produksi mineral logam wajib melakukan pengolahan atau pemurnian hasil tambang didalam negeri, baik dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.

Keluarnya PP tersebut otomatis membuat DKFT berhenti berproduksi dan mulai fokus ke pembangunan smelter.

Kini, angin segar mulai terasa setelah smelter 1 mulai berproduksi dan adanya peraturan pemerintah dan menteri ESDM No 1 tahun 2017 yang bunyinya kurang lebih bahwa pemegang IUP operasi produksi nikel, IUPK operasi produksi, IUP operasi produksi khusus pengolahan nikel wajib memanfaatkan bijih nikel (kadar Ni kurang dari 1,7%) sekurang kurangnya 30% dari total kapasitas input pasilitas pengolahan dan pemurnian yang dimiliki. Jika sudah terpenuhi maka dapat menjual bijih nikel keluar negeri paling lama 5 tahun.

Seiring dengan terbitnya PP tersebut, DKFT sudah mendapatkan kuota ijin ekspor bijih nikel sebesar 1.000.000 ton per tahun. Mudah mudahan dengan begitu DKFT kembali bisa mendulang laba dan membagi deviden dalam jumlah besar sehingga sahamnya menjadi buruan para investor deviden.




SEJARAH

DKFT (dahulu bernama PT Duta Kirana Finance Tbk) didirikan tahun 1995. Perusahaan sendiri mulai terjun ke pertambangan bijih nikel sejak tahun 2008. Dan pada tahun 2011 perusahaan mulai mengekspor bijih nikel ke luar negeri. Dimasa kejayaannya, DKFT bahkan mampu mengekspor bijih nikel sebesar 3.000.000 ton per tahun.

Tambangnya sendiri berlokasi di Morowali Sulawesi Tengan dan Konawe Utara Sulawesi tenggara. Sulawesi sendiri memiliki cadangan nikel laterite terbesar didunia.

Berdasarkan anggaran dasar, perusahaan memiliki ruang lingkup pekerjaan dalam bidang perdagangan hasil tambang dan kegiatan pertambangan.


DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI

Komisaris Utama : Jonny N Wiraatmadja
Komisaris : Chen Wen Ping
Komisaris Independen : Bastian Purnama

Direktur Utama : Kiki Hamidjaja
Direktur : Feni Silviani Budiman, Kurniadi Atmosasmito




PEMEGANG SAHAM

PT Jinsheng Mining sejumlah 4.237.717.685 (75,16%)
Publik kurang dari 5% sejumlah 1.400.528.915 (24,84%)


SEJARAH PENCATATAN SAHAM

  1. Saham perdana sejumlah 26.000.000 tanggal 21 November 1997
  2. Saham pendiri sejumlah 39.000.000 tanggal 21 November 1997
  3. Penambahan saham tanpa HMETD sejumlah 44.304.000 tanggal 22 Desember 2008
  4. Right issue 1 sejumlah 983.736.000 tanggal 8 Desember 2011
  5. Stock split sejumlah 4.488.497.640 tanggal 2 Agustus 2012
  6. Konversi waran sejumlah 55.382.185



ANAK USAHA

  1. PT Mulia Pasific Resources (MPR/99,9%), bergerak dalam bidang pertambangan memiliki anak usaha yaitu PT Bumi Konawe Abadi (BKA/99,8%) dan kepemilikan di PT COR Industri Indonesia (CORII/36%). 
  2. PT Mega Buana Resources (MBR/99,6%), bergerak dalam bidang pertambangan
  3. PT Itamatra Nusantara (IMN/99%), bergerak dalam bidang pertambangan
  4. PT COR Industri Indonesia (CORII/24%), bergerak dalam bidang pengolahan dan perdagangan hasil tambang


PANDANGAN MASA DEPAN



PENJELASAN ANAK USAHA

A. PT COR Industri Indonesia (CORII/60%)

CORII merupakan kerjasama antara DKFT dengan PT Macrolink Nickel Development untuk membangun smelter. Sebenernya smelter yang dibangun ada 2 yaitu :

1.Smelter blast furnace yang merupakan pengolahan bijih nikel menjadi nikel dangan kadar 8%-10% (Nickel Pig Iron/NPI). Smelter ini terdiri dari tiga tahap yaitu
  • Tahap I, memiliki kapasitas 100.000 ton per tahun dan saat ini sudah beroperasi
  • Tahap 2, memiliki kapasitas 100.000 ton per tahun, perkiraan operasi akhir 2018
  • Tahap 3, memiliki kapasitas 100.000 ton per tahun, perkiraan operasi akhir 2019

2.Smelter Rotary Kiln Electric Furnace dengan kapasitas 20.000 ton per tahun. Pada smelter kedua ini akan dihasilkan nikel dengan kadar 10-25%

Sebagai pembanding Antam menghasilkan feronickel dengan kadar 25-40% sedangkan INCO menghasilkan Nickel matte dengan kadar 70-78%.

B. PT Mulia Pasific Resources (MPR/99,9%).

MPR memiliki beberapa ijin usaha pertambangan yaitu :
  1. IUP eksplorasi Tembaga di Halmahera dengan luas 4.400 Ha
  2. IUP eksplorasi tembaga dan nikel di Ampoang selatan dan takari dengan luas 2.000 Ha
  3. IUP operasi produksi nikel di morowali dengan luas 4.780 Ha.
Morowali sendiri terdiri dari beberapa blok tambang namun yang baru ditambang adalah morowali blok 1 dengan jumlah cadangan 2.462.500 ton dan sisa tertambang 1.282.443 ton. sampai juni 2017 di blok 1 berhasil dilakukan penambangan sebesar 71.120 ton.



C. PT Bumi Konawe Abadi (BKA/99,8%). 

BKA merupakan anak usaha PT mulia Pasific Resources. BKA memiliki IUP operasi produksi nikel di Konawe, Sulawesi tenggara dengan luas 430 Ha. Di konawe sendiri terdiri dari 2 blok dan yang berproduksi baru blok 1, yang memiliki cadangan sebesar 8.955.825 ton dan sisa cadangan saat ini adalah sebesar 3.900.652 ton.

D. PT Ita Matra Nusantara (IMN/99%)

IMN sendiri memiliki IUP eksplorasi dan IUP operasi produksi di Morowali. Saat ini IMN berproduksi di blok lambolo yang memiliki cadangan 2.891.241 ton dan sisa cadangan sampai saat ini adalah sebesar 2.550.544 ton. Produksi sampai juni 2017 adalah sebesar 107.378 ton.

Melihat jumlah produksi dan jumlah cadangan yang ada, serta masih banyaknya IUP ekplorasi maka dapat disimpulkan bahwa DKFT tentu masih bisa berproduksi dalam jangka panjang. baik untuk smelter maupun ekspor.




Berapa peluang pendapatan jika smelter berproduksi penuh pada 2020?

Smelter blast furnace pada akhir 2019 memiliki kapasitas 300.000 ton dan baru bisa menghasilkan pendapatan pada tahun 2020. Jika dari smelter memproduksi NPI kadar 10% dengan jumlah 300.000 ton maka akan dibutuhkan bijih nikel sebanyak 3.000.000 ton (1ton NPI kadar 10% dibutuhkan 10ton bijih nikel).

Dari Smelter rotary kiln electric furnace yang memiliki kapasitas 20.000 ton dengan kadar Ni 20% dibutuhkan bijih nikel sebanyak 400.000 ton (1 ton feronikel kadar Ni 20% dibutuhkan 20 ton bijih nikel). 

Cek pendapatan.
  1. Penjualan bijih nikel ke smelter dengan asumsi harga bijih nikel 20 usd per ton = (3.000.000 + 400.000) x 20 usd =  68.000.000 usd
  2. Penjualan NPI kadar 10% dengan asumsi LME 10.000 usd (LME berkadar Ni 100% dan jika kadar Ni 10% maka harganya 1.000 usd per ton) = 300.000 ton x 1.000 usd = 300.000.000 usd
  3. Penjualan nikel kadar 20% = 2.000 usd x 20.000 = 40.000.000 usd

Jika ditotal 408 juta usd dan jika dirupiahkan (asumsi usd = 13.500) akan menjadi 5.505 M. Dengan asumsi NPM 18% berarti laba yang diperoleh sebesar 991,4 M dengan EPS sebesar 177,1 per lembar.  Jika smelter berproduksi penuh maka kemungkinan DKFT tidak akan lagi menjual bijih nikel ke luar negeri. Hal ini dikarenakan kebutuhan smelter yang sangat besar.




Bagaimana peluang pendapatan di tahun 2017?

Pada tahun 2017, DKFT memperoleh kuota ekspor bijih nikel kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1.000.000 ton. tapi manajemen berencana mengekspor sebesar 500.000 ton di tahun 2017 dan 1.000.000 di tahun 2018. Dengan asumsi harga ekspor bijih nikel sebesar 36 usd per ton maka diperoleh pendapatan dari penjualan bijih nikel di akhir 2017 sebesar 500.000 ton x 36 usd = 18.000.000 usd atau sekitar 243M

Pada tanggal 23 Juni 2017, DKFT berhasil melakukan ekspor perdana NPI kadar 10% dengan volume 7.000 ton ke Zhangjiagang, Tiongkok. 

Mari kita cek

Smelter terdiri dari 4 unit blast furnace. unit 1 dan 2 sudah menghasilkan mulai bulan juni (unit selesai bulan april dan berproduksi bulan mei dan juni). Unit 3, 4 akan menghasilkan mulai bulan juli. 

Smelter sendiri memiliki kapasitas 100.000 ton per tahun atau sekitar 8.400 ton per bulan. Masing masing unit berarti memiliki kapasitas 2.100 ton per bulan. 

Unit 1 dan 2 berproduksi dari bulan mei - juni sebesar 7.000 ton berarti produksinya 83% dari kapasitas (kapasitas unit 1 dan 2 adalah 2.100 x 2 unit = 4.200 ton per bulan atau 8.400 selama 2 bulan). Sampai akhir tahun 2017 unit 1, 2 akan memproduksi sebanyak 2.100 x 2 unit x 6 bulan x 83% = 20.900 ton + 7.000 ton = 28.000 ton.

Kemudian unit 3,4 mulai menghasilkan bulan agustus berarti sampai akhir tahun = 2.100 x 2 unit x 5 bulan x 83% = 17.400 ton.

Jika ditotal keseluruhan menjadi 45.400 ton di akhir 2017. (Ternyata beda dikitlah dengan hitungan yang punya smelter yang berencana memproduksi 43.000 ton di akhir 2017). 

Dengan asumsi harga jual NPI 10% sebesar 1.000 usd per ton (asumsi LME 10.000 usd per ton berarti Ni kadar 10% = 10.000 x 10% = 1.000 usd per ton) maka pendapatannya adalah sebesar 45.400 ton x 1.000 usd = 45,4 juta usd atau sekitar 612 M. Dengan kepemilikan sebesar 60% berarti pendapatannya sebesar 367,2 M.



Nah, dengan produksi smelter di akhir tahun sebesar 45.400 maka dibutuhkan bijih nikel sebanyak 454.000 ton (setiap 1 ton NPI 10% dibutuhkan 10 ton bijih nikel). Dengan asumsi harga jual bijih nikel ke smelter sebesar 20 usd per ton maka pendapatannya adalah sebesar 9.080.000 usd atau sekitar 122,6 M. 

Jadi total penjualan sampai akhir 2017 adalah sebesar 243M + 367,2M + 122,6 M = 732,8M. Dengan asumsi NPM 18% maka labanya adalah sebesar 132M dan EPS adalah sebesar 23,6 per lembar.

Untuk tahun 2018 akan ada tambahan pendapatan sebesar 243M yaitu dari penjualan bijih nikel yang direncanakan sebesar 1.000.000 ton di akhir 2018. Dan ditahun 2019 akan ada tambahan pendapatan lagi dari smelter blast furmace tahap 2 dan tahun 2020 dari smelter blast furnace tahap 3 dan dari smelter rotary kiln electric furnace juga sudah menghasilkan pendapatan.


Mungkin hanya itu yang bisa di tulis, lebih dan kurang mohon di maafkan.

No comments: