Analisis PT exploitasi energi indonesia tbk (saham CNKO)

CNKO, pemasok low rank coal utama PLN





SEJARAH SINGKAT


CNKO didirikan pada tanggal 13 September 1999 dengan nama PT Central koporindo. tahun 2010 perusahaan berganti nama menjadi PT Exploitasi Energi Indonesia.

Berdasarkan anggaran dasar, CNKO memiliki ruang lingkup pekerjaan dalam bidang pertambangan dan perdagangan batubara, pembangunan dan pengelolaan PLTU.



DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI

Presiden Komisaris : Andri Cahyadi
Komisaris Independen : Edwin Pamimpin Situmorang
Komisaris : Djoko Sumaryono

Presiden Direktur : Benny Wirawarsa
Wakil Presdir : Pudjianto Gondosasmito
Direktur independen : Sudarwanta
Direktur : Eny Indriyana
Direktur : Zulfian Mirza



SEJARAH PENCATATATN SAHAM
  1. Saham perdana @ 105, tanggal 21 November 2001, sebanyak 800.000.000
  2. Saham pendiri, tanggal 21 November 2001, sebanyak 1.500.000.000
  3. Reverse stock, tanggal 19 November 2003, sebanyak 2.185.000.000
  4. Right issue seri B, tanggal 19 Januari 2004
  5. Waran seri II, sebanyak 911.550.572
  6. Right issue II, tanggal 17 Januari 2013, sebanyak 4.709.810.632

PEMEGANG SAHAM
  1. Interventures Capital pte ltd sejumlah 770.810.500 (8,6%)
  2. OCBC Bank Mezzanine Capital Unit sejumlah 841.155.800 (9,4%)
  3. PT Saibatama International Mandiri sejumlah 1.016.891.525 (11,354%)
  4. Publik (kurang dari 5%) sejumlah 6.327.503.381 (70,648%)


ANAK USAHA



Disamping memiliki anak usaha, CNKO sendiri sebenernya juga mengendalikan beberapa kegiatan bisnis secara langsung, antara lain:
  1. Konsesi tambang di Kecamatan Asam asam dan Kecamatan Kintap, Tanah laut, Kalimantan selatan
  2. Pelabuhan dengan fasilitas loading unloading, stock pile dan crusing di kecamatan asam asam
  3. Pembangkit listrik tenaga uap pangkalan bun dan saat ini masih proses konstruksi PLTU rengat dan Tembilahan
Adapun anak usaha CNKO sendiri adalah sebagai berikut :

A. PT Energi Batu Bara Indonesia (99,97%), berlokasi di jakarta, bergerak dalam bidang pertambangan dan perdagangan batubara. memiliki anak usaha antara lain :
  1. PT Trans Lintas Segara (99,99%), berlokasi di Kalimantan Selatan, bergerak dalam bidang jasa pelayaran. Saat ini PT Trans Lintas Segara mengoperasikan 18 unit tug & barge dengan kapasitas 66.000 MT
  2. PT Corporindo Guna Bara (94,59%), berlokasi di Kalimantan Selatan, bergerak dalam bidang pertambangan dan perdagangan batubara. PT Corporindo Guna Bara memiliki konsesi tambang di kecamatan Kelumpang Hilir dan di kecamatan Kelumpang Hulu, Kota baru, Kalimantan selatan, serta memiliki pelabuhan dengan fasilitas loading unloading, stock pile dan cruishing.
  3. PT Sekti Rahayu Indah (51,4%), berlokasi di kalimantan Tengah, bergerak dalam bidang pertambangan dan perdagangan batubara. PT Sekti Rahayu Indah memiliki konsesi tambang di kecamatan Mentaya Hulu, kota Waringin Timur, kalimantan Tengah.
  4. PT Abe Jaya Perkasa (51,3%), berlokasi di jakarta, bergerak dalam bidang pertambangan batu bara. PT Abe Jaya Perkasa memiliki konsesi tambang di kecamatan Gunung Timang, Barito Utara, kalimantan tengah. Saat ini ABE masih dalam tahap pengembangan.
  5. PT Dwi Guna Laksana (81%), berlokasi di Kalimantan Selatan, bergerak dalam bidang pertambangan dan perdagangan batu bara. PT Dwi Guna Laksana, memiliki konsesi tambang di kecamatan Batu Ampar, Tanah laut, Kalimantan Selatan. PT Dwi Guna Laksana memiliki 3 anak usaha antara lain:
  • PT Truba Dewata Guna Persada (99,91%), berlokasi di Kalimantan selatan, bergerak dalam bidang pertambangan dan perdagangan batubara. PT Truba Dewata Guna Persada memiliki pelabuhan di kecamatan Kintap, Tanah laut, kalimantan selatan dengan fasilitas loading unloading, stock pile, dan crushing.
  • PT Usaha Kawan Bersama (99,22%), berlokasi di Kalimantan Selatan, bergerak dalam bidang pertambangan dan perdagangan batu bara. PT Usaha Kawan Bersama memiliki konsesi tambang batubara di kecamatan Karang Intan, Banjar, kalimantan Selatan yang saat ini masih dalam tahap pengembangan
  • PT Sinergi Laksana Bara Mas (99,99%), berlokasi di jakarta, bergerak dalam bidang pertambangan dan perdagangan batubara dan saat ini masih dalam tahap pengembangan.

KEJADIAN PENTING


CNKO saat ini mengoperasikan satu pembangkit listrik tenaga uap di Pangkalan Bun dengan kapasitas 2x5 MW dan di jual ke PLN dengan harga 519,91 per kw. 

Disamping PLTU pangkalan Bun, CNKO juga sedang berjuang untuk dua pembangkit lainnya yaitu PLTU Rengat dan PLTU Tembilahan. Dengan kondisi PLTU yang tidak kunjung rampung, pada tanggal 4 januari 2016 dan 28 desember 2016 PLN mengakhiri kesepakatan untuk membeli listrik dari PLTU Rengat dan PLTU Tembilahan karena PLTU tersebut tidak dapat mencapai tanggal operasi komersial PLTU yang jatuh pada tanggal 30 Oktober 2015 dan 27 Februari 2015.

Menurut penulis, dengan berakhirnya kesepatan dengan PLN terhadap kedua PLTU tersebut, tidak akan memiliki pengaruh yang terlalu dalam karena dari segi penjualan listrik terhadap pendapatan total CNKO masih kecil. Sebagai contoh, tahun 2016 pendapatan total perusahaan adalah sebesar 2.221,1 M dan listrik pangkalan bun hanya sebesar 31,3 M.

PANDANGAN MASA DEPAN


Tahun 2016 CNKO berhasil menjual batubara ke PLN dan Indonesia Power sebesar 4.110.127 ton dengan pendapatan 2.160 M jauh di atas penjualan batubara tahun 2015 yang hanya sebesar 1,7 juta ton.

Dengan penjualan batubara sebesar 4.110.127 ton dan pendapatan sebesar 2160 M maka harga jual rata rata batu bara CNKO adalah sebesar 525.531 per MT.

Berapa sebenarnya total kebutuhan batu bara PLN dan Indonesian Power dari CNKO berdasarkan perjanjian yang telah disepakati?
  1. PLTU Labuan Banten 235.584 MT/th
  2. PLTU Teluk naga  248.000 MT/th
  3. PLTU Suralaya Banten 500.000 MT/th
  4. PLTU Indramayu jabar 196.320 MT/th
  5. PLTU Rembang Jateng 194.400 MT/th
  6. PLTU Pacitan Jatim 9.500.000 MT selama 20 th atau 475.000 MT/th
  7. PLTU Paiton Baru 9.500.000 MT selama 20 th atau 475.000 MT/th
  8. PLTU Baru Sulsel 215.000 MT/th
  9. PLTU Jatim 270.000 MT/th
  10. PLTU 3 Jatim 285.000 MT/th
  11. PLTU Kalteng 265.000 MT/th
  12. PLTU 2 NTB 140.000 MT/th

Disamping itu ada juga perjanjian antara PT Dwi Guna Laksana (anak usaha 81%) dengan PLN untuk memasok batubara masing masing sebanyak 65.000 MT/th, antara lain dengan :
  1. PLTU 1 Kalteng 
  2. PLTU Sulteng
  3. PLTU 2 Sulteng
  4. PLTU Gorontalo
  5. PLTU 2 NTB
  6. PLTU 1 NTB
  7. PLTU Maluku Utara

Kemudian perjanjian dengan Indonesian Power untuk memasok batubara sebesar 1.000.000 MT per tahun dengan harga 689.750 per MT.

Jika ditotal secara keseluruhan maka dalam setahun kemungkinan CNKO akan memproduksi batu bara sebesar 4.954.304 MT per tahun yang jika dikalikan harga jual rata rata batu bara CNKO sebesar 525.531 per MT maka akan didapat pendapatan sebesar 2.603 M per tahun. nah, dengan naiknya harga batu barat dipasaran bukan tidak mungkin CNKO akan menegosiasikan ulang harga jual batubara nya ke PLN maupun ke Indonesian Power untuk menaikan harga jual.


Bagaimana dengan pasar ekspor?





Tahun 2013, CNKO sempat mengikat kerjasama dengan KCH energy co ltd untuk memasok batubara untuk pembangkit di korea. Tapi belum diketahui bagaimana kelanjutannya. Nah jika anak usaha CNKO yaitu PT Abe jaya perkasa dan PT Usaha Kawan Bersama sudah berproduksi maka kemungkinan besar CNKO akan mengincar pasar ekspor.

Mungkin hanya ini yang bisa dijelaskan, lebih dan kurang mohon di maafkan.
Salam Gorengan






No comments: