Analisis PT Sri Rejeki Isman Tbk (saham SRIL)

SRIL, Si raja pakaian militer






SEJARAH

Pada mulanya, Sritex Berawal dari usaha dagang tekstil tradisional di pasar Klewer, Solo yang didirikan oleh H.M Lukminto pada tahun 1966. Kemudian, Pabrik pertama berhasil didirikan di Solo pada tahun 1968. Pada tahun 1978, perusahaan secara resmi berganti nama menjadi PT Sri Rejeki Isman.

Saat ini SRIL sudah jadi raja tekstil di asia tenggara yang mempekerjakan lebih dari 18.000 karyawan. SRIL pun menjadi kebanggan indonesia karena telah menguasai pangsa pasar pakaian militer dunia. Untuk saat ini saja, SRIL sudah menyuplai pakaian militer ke lebih dari 30 negara di dunia.


SRIL berdasarkan anggaran dasarnya memiliki ruang lingkup kegiatan usaha dalam bidang industri pemintalan, pertenunan, pencelupan, pencetakan, penyempurnaan tekstil dan pakaian jadi. SRIL sendiri memulai kegiatan komersilnya pada tahun 1978.



DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI


Komisaris Utama : Hj. Susyana Lukminto
Komisaris : Megawati
Komisaris Independen : Prof. Ir. Sudjarwadi, M.eng. Phd.

Direktur Utama : Iwan Setiawan
Wakil Direktur Utama : Iwan Kurniawan Lukminto
Direktur Keuangan : Allan Moran Severino
Direktur Pemasaran : Arif Halim
Direktur Produksi : Phalguni Mukhopadhyay
Direktur Operasional : Eddy Prasetyo Salim
Direktur Independen : M. Nasir Tamara Tamimi



PEMEGANG SAHAM

PT Huddleston Indonesia sejumlah 10.425.274.040 (56,071%)
Saham Pendiri sejumlah 6.660.000 (0,036%)
Publik (dibawah 5%) sejumlah 8.160.954.000 (43,893%)


SEJARAH PENCATATAN SAHAM

Pencatatan saham perdana @240 sejumlah 5.600.000.000
Pencatatan saham pendiri sejumlah 12.992.888.040




ANAK USAHA
  1. PT Sinar Pantja Djaja (99,9%), berlokasi di Semarang, bergerak dalam bidang pemintalan benang.
  2. Golden Legacy Pte Ltd (100%), berlokasi di singapur, bergerak dalam bidang investasi. memiliki anak usaha yaitu Golden Mountain Textile and Trading Pte Ltd (100%) yang juga bergerak dalam bidang investasi.

PRODUK
  1. Benang dengan kapasitas produksi 654.000 bales per tahun
  2. Kain Mentah dengan kapasitas produksi 180 juta meter per tahun
  3. Kain jadi dengan kapasitas produksi 240 juta yard per tahun
  4. pakaian jadi dengan kapasitas produksi 27 juta potong per tahun

LOKASI PABRIK
  1. Sritex Sukoharjo 1 dengan luas 42 Ha
  2. Sritex Sukoharjo 2 dengan luas 19 Ha
  3. Pabrik PT Sinar Pantja Djaja di Semarang dengan luas 18 Ha



PANDANGAN MASA DEPAN

Sritex adalah salah satu perusahaan yang secara konsisten meningkatkan kapasitas pabrik. misal tahun 2016 Sritex meningkatkan kapasitas pemintalan dari 566.000 bal menjadi 654.000 bal. Kemudian Divisi finishing juga ditingkatkan kapasitasnya dari 120 juta yard menjadi 240 juta yard. begitu juga kapasitas pertenunan yang ditingkatkan dari 120 juta meter menjadi 180 juta meter. Dan terakhir untuk pakaian jadi ditingkatkan dari 18 juta potong menjadi 27 juta potong dan bisa dimaksimalkan sampai 30 juta potong.

Dalam memproduksi pakaian jadi, ada beberapa tahapan yang harus dilalui yaitu proses pemintalan untuk membuat benang, proses pertenunan untuk menjadikannya kain mentah, proses finishing (pemutihan, pewarnaan dan dicetak) serta konveksi untuk menghasilkan pakaian jadi.



Adapun produk produk yang sudah dihasilkan oleh SRIL / Sritex adalah sebagai berikut :
  1. Benang / Pemintalan. Tahun 2016 Sritex memproduksi benang sebesar 591.000 bal. Kebutuhan benang sendiri adalah sebesar 618.092 bal. Jadi tahun 2016 Sritex masih membeli benang dari luar sebesar 26.278 bal. Penjualan Divisi pemintalan sendiri pada tahun 2016 menghasil pendapatan sebesar 260,7 juta USD. Dapat dihitung bahwa rata rata harga benang adalah sebesar 441,1 USD per bal. Nah, tahun 2017, pabrik pemintalan Sritex sudah mampu memproduksi benang sebesar 654.000 bal. Jadi tahun 2017.
  2. Kain Mentah / Pertenunan. Tahun 2016, Sritex memproduksi kain mentah sebesar 145.425.281 meter. Total kebutuhan kain mentah Sritex tahun 2016 adalah sebesar 182.259.831 meter. Jadi masih ada pembelian dari luar sebesar 42.834.550 meter. Divisi pertenenunan sendiri pada tahun 2016, berhasil memperoleh pendapatan sebesar 69,3 juta USD. Ini berarti harga rata rata kain mentah adalah sebesar 0,47 USD per meter. Tahun 2017, pabrik pertenunan Sritex sudah mampu memproduksi kain mentah sebesar 180 juta meter per tahun. Jadi, walaupun pabrik dimaksimalkan, masih akan ada pembelian kain mentah dari luar sebesar 2.259.831 meter.
  3. Kain Jadi / Finishing kain. Kain jadi merupakan kain mentah yang diputihkan, diwarna dan dicetak sehingga bisa langsung dipakai untuk produksi garment. Tahun 2016, Sritex berhasil memproduksi kain jadi sebesar 119.046.544 yard dengan harga penjualan sebesar 175,7 juta USD. Berarti harga jual kain jadi adalah sebesar 1,47 USD per yard. Tahun 2017, pabrik Finishing kain Sritex mampu memproduksi kain jadi sebesar 240 juta yard per tahun.
  4. Pakaian Jadi / konveksi / garment. Pada tahun 2016, produksi Garment Sritex adalah sebesar 22.026.992 potong dengan penjualan sebesar 174,3 juta USD. Berarti harga rata rata pakaian jadi adalah sebesar 7,91 USD per potong. Tahun 2017, Sritex memiliki kapasitas produksi pakaian jadi sebesar 27 juta potong.



Berapa pendapatan Sritex dalam setahun jika seluruh produksi dimaksimalkan ?

Dapat dihitung bahwa pendapatan dari masing masing produk jika produksi dimaksimalkan sesuai kapasitasnya adalah sebagai berikut :
  1. Kain sebesar 654.000 bal x 441,1 USD = 288,5 juta USD
  2. Kain mentah sebesar 180.000.000 meter x 0,47 USD = 84,6 juta USD
  3. Kain jadi sebesar 240.000.000 yard x 1,47 USD = 352,8 juta USD
  4. Pakaian jadi sebesar 27.000.000 potong x 7,91 USD = 213,6 juta USD

Jadi, total pendapatan yang akan diperoleh jika produksi dimaksimalkan kapasitasnya adalah sebesar 939,5 juta USD. dengan asumsi USD adalah senilai 13.500 maka pendapatan dalam rupiah adalah sebesar 12,7 T. Asumsi NPM 10% maka laba yang didapat adalah sebesar 1,27 T dan EPS sebesar 68,2 per lembar.




Berapa produksi tahun 2017 berdasarkan pendapatan di Q1 2017?  

Sampai Maret 2017, Sritex memperoleh pendapatan dari Pemintalan sebesar 74,14 juta usd, dari pertenunan sebesar 16,12 juta usd, dari finishing sebesar 42,11 juta usd dan dari konveksi sebesar 45,81 juta usd. 

Dari sini didapat jumlah produksi sampai maret 2017 yaitu benang sebesar 168.080 bal, kain mentah sebesar 34.297.872 meter, kain jadi sebesar 28.646.258 yard dan pakaian jadi sebesar 5.791.403 potong.

Jika produksi konstan maka pada akhir 2017 produksi Sritex adalah sebagai berikut:
  1. Benang sebesar 672.320 bal, dengan kapasitas produksi Sritex sebesar 654.000 bal per tahun berarti harus membeli dari luar sebesar 18.320 bal
  2. Kain Mentah sebesar 137.191.488 meter, dengan kapasitas produksi Sritex sebesar 180 juta meter per tahun berarti masih ada sisa kapasitas produksi sebesar 43 juta meter.
  3. Kain Jadi sebesar 114.585.032 yard, dengan kapasitas produksi sebesar 240 juta yard per tahun berarti masih ada sisa kapasitas produksi sebesar 126 juta yard. 
  4. Pakaian Jadi sebesar 23.165.612 potong, dengan kapasitas produksi sebesar 27 juta potong per tahun berarti masih ada sisa kapasitas produksi sebesar 4 juta potong.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa Sritex harus bekerja maksimal untuk memasarkan produk agar produksinya dapat dimaksimal mendekati kapasitas sehingga bisa mengantongi pendapatan sebesar 12,7 T sesuai dengan kapasitas maksimal produksi.




KABAR BAIK UNTUK SRITEX
  1. Pembukaan gudang berikat untuk kapas oleh PT Gerbang Tehnologi cikarang di area Cikarang dryport. Dimana, Sritex menyewa dua gudang dengan luas masing masing 11.960 m2 dan 82.293 m2. kawasan berikat ini terhubung langsung ke tanjung priok melalui jalur kereta api ataupun jalur Tol sehingga memudahkan transportasi. Sebelumnya, gudang berikat kapas berada di malaysia karena memiliki fasilitas lengkap, sehingga import kapas diharuskan masuk ke gudang berikat di malaysia terlebih dahulu sebelum dikirim ke pengusaha di indonesia.
  2. Keseriusan pemerintah indonesia untuk menawarkan produk produk militer ke negara afrika dan negara amerika, juga membuka peluang bagi Sritex untuk memasarkan pakaian militer di negara negara tersebut. Begitu juga kerjasama militer antara indonesia dengan beberapa negara seperti korea selatan, turki dan francis, juga membuka peluang bagi sritex untuk mengembangkan tehnologi pakaian militer secara bersama sama dengan negara bersangkutan.
  3. Kebijakan ekspor textile dan produk textile untuk memberikan insentif pembebasan pajak pertambahan nilai bahan baku lokal juga akan dapat mengurangi beban Sritex




HAMBATAN HAYALAN PENULIS DI MASA DEPAN


Saat ini, di beberapa negara didunia sedang berpacu untuk menemukana pakaian tactical yang baru yang bisa meningkatkan kekuatan pemakai seperti Tactical Assault Light Operator Suit (Talos) yang dikembangkan oleh USA ataupun jenis full body Protector yang dikembangkan oleh rusia, china dll. dengan semakin berkembangnya tehnologi pakaian militer maka Sritex juga harus mulai berinvestasi untuk mengembang jenis pakaian itu sehingga tetap menjadi pemasok pakaian militer kebanggaan.

Mungkin ini yang bisa saya tulis, kurang dan lebihnya mohon dimaafkan.





No comments: