analisis PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI)

PT BUDI STARCH & SWEETENER Tbk (BUDI)





Salah satu saham yang penulis rasa merupakan sampah mutiara adalah saham BUDI. Penulis punya alasan sendiri kenapa bisa mengkatagorikan BUDI sebagai sampah mutiara. Mari kita cek bersama

SEJARAH



PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) adalah perusahaan yang bernaung dibawah Sungai Budi Group (SBG). SBG sendiri merupakan perusahaan agrobisnis terbesar di indonesia yang didirikan pada tahun 1947
BUDI didirikan pada tahun 1979 dengan nama PT North Aspac Chemical Industrial. Pada tahun 1988 BUDI berganti nama menjadi PT Budi Acid Jaya kemudian akhirnya berubah menjadi PT Budi Starch & sweetener.
Pada awalnya perusahaan memiliki satu pabrik asam nitrat kemudian sejalan dengan perkembangan SBG, BUDI di reorganisasi menjadi produsen berbahan dasar singkong dengan produk utama asam sitrat dan tepung topioka.
Pada tanggal 31 maret 1995 BUDI melakukan penawaran umum saham perdana sebanyak 30.000.000 dengan nilai nominal 500 dengan harga 3000 per saham. Saham saham tersebut dicatatkan di BEI tanggal 8 mei 1995

Sejarah pencatatan saham
  • Saham perdana @ Rp 3.000, sebanyak 30.000.000 tanggal 8 mei 1995
  • Pencatatan saham pendiri , sebanyak 70.000.000 tanggal 8 mei 1995
  • Saham bonus ( 1996 – 1997 ), sebanyak 150.000.000
  • Penambahan saham sebanyak 12.500.000 tanggal 5 januari 1995
  • Pemecahan saham 1:4 sebanyak 787.500.000 tanggal 2 september 1999
  • Penerbitan saham baru tanpa penawaran sebanyak 181.000.000 tanggal 24 februari 2005
  • Penawaran terbatas sebanyak 2.463.000.000 tanggal 1 agustus 2007
  • Konversi waran seri I ( 2008 – 2012 ) sebanyak 404.497.362
  • Penambahan modal tanpa HMETD @125 sebanyak 400.000.000


Pembagian deviden

  • Tahun 2010 yaitu 5,1 per lembar
  • Tahun 2011 yaitu 8 per lembar
Selanjutnya tidak ada pembagian deviden.


STRUKTUR KEPEMILIKAN



Pemegang saham
  • PT Budi Delta Swakarya 1,126,271,833 (25.034%)
  • PT Sungai Budi 1,126,271,833 (25.035%)
  • Public ( kurang dari 5%) 2,246,428,531 (49.932%)


Anak perusahaan

  • PT. Budi Lumbung Cipta Tani, produksi tepung, kepemilikan 100%
  • PT. Associated Bristish Budi, produksi pemanis, kepemilikan 50,1%
  • PT. Budi Acid jaya singapore, perdagangan, kepemilikan 100%


Dewan komisaris dan direksi

  • Presiden komisaris : Widarto
  • Komisaris : Oey Alfred
  • Komisaris independen : Daniel Kandinata
  • Presiden direktur : Santoso Winata
  • Wakil presiden direktur : Sudarmo Tasmin
  • Direktur : Djunaidi Nur, Sugandhi, Oey Albert, Mawarti Wongso
  • Direktur independen : Tan Anthony Sudirjo




PRODUK
  • Tepung topioka, bahan: singkong, penggunaan : untuk makanan, kertas, mie instan
  • Glukosa & fruktosa, bahan : tepung topioka, penggunaan : untuk makanan dan minuman, farmasi
  • Maltodextrim, bahan : tepung topioka, penggunaan : makanan bayi, susu, biskuit
  • Sorbitol, bahan : tepung topioka, penggunaan : pasta gigi, kembang gula
  • Asam sulfat, bahan : belerang, penggunaan : zat warna, obat, detergen
  • Karung plastik, bahan biji plastik, penggunaan : pengemasan
  • Pupuk organik



PABRIK DAN KAPASITAS PRODUKSI


  • Tepung topioka sebanyak 14 pabrik yaitu 11 pabrik di lampung kapasitas 645.000 ton/tahun, 1 pabrik di sulawesi selatan kapasitas 30.000 ton/ tahun, 1 pabrik di jawa tengah kapasitas 45.000 ton/tahun, 1 pabrik di jawa timur kapasitas 30.000 ton/tahun
  • Asal sulfat sebanyak 1 pabrik di lampung kapasitas 60.000 ton/tahun
  • Karung plastik sebanyak 3 pabrik yaitu 2 di lampung kapasitas 5.000 ton/tahun, 1 di jawa barat kapasitas 4500 ton/tahun
  • Glukosa sebanyak 1 pabrik di lampung kapasitas 64.800 ton/tahun
  • Glukosa dan sorbitol sebanyak 1 pabrik di jawa timur kapasitas 18.000 ton/tahun
  • Glukosa, fruktosa, maltodextrin sebanyak 1 pabrik di jawa barat kapasitas 93.600 ton /tahun
  • Glukosa dan maltodextrin sebanyak 1 pabrik di jawa tengah kapasitas 36.000 ton/tahun
Selain itu BUDI juga mengoperasikan 9 pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBG) yang berlokasi di way abung, tulang bawang, gunung agung, ketapang, unit 6, pakuan agung, way jepara dan terbagi besar.






RENCANA BISNIS TAHUN 2016

  • Membangun pembangkit listrik kapasitas 2x6MW yang saat ini sudah 96% dan diperkirakan selesai juni 2016
  • Membangun pabrik glukosa dan fruktosa di kriyan dengan kapasitas 72.000 ton/tahun dan diperkirakan mulai berproduksi di q1 2016
  • Membangun pabrik glukosa, sorbitol dan maltodextrim di lampung dengan kapasitas 72.000 ton/tahun dan diperkirakan mulai berproduksi q1 2016
  • Membangun pabrik sweetener di lampung dan diperkirakan berproduksi tahun 2017




PANDANGAN BISNIS




BUDI adalah perusahaan yang memiliki bisnis pengolahan singkong dari hulu ke hilir dan terintegrasi dengan Sungai Budi Group. Dengan lahan kebun singkong seluas 20.000ha dan adanya program pemerintah untuk meningkatkan produksi singkong nasional melalui kemudahan membuka lahan baru dengan potensi sampai 193 juta ha ( saat ini lahan singkong nasional 1,2 juta ha) sangatlah cukup untuk menopang produksi apalagi saat ini sudah ada pengembangan varietas baru untuk meningkatkan produktifitas dari 18-20 ton/ha menjadi 30-40 ton/ha. Lokasi pabrik BUDI juga sangat strategis karena berada di daerah sentra produksi singkong nasional diantaranya lampung, jawa timur, jawa barat, jawa tengah bahkan lampung sendiri merupakan produsen singkong terbesar yang menguasai 20% dari produksi singkong nasional.



Untuk meningkatkan efisiensi, BUDI juga terus membangun pembangkit listrik, dimana saat ini BUDI mengoperasikan 9 pembangkit listrik tenaga bio gas (PLTBG). Pembangkit listrik ini juga memiliki keuntungan antara lain : memiliki pasokan listrik yang stabil, efisiensi karena biogas jauh lebih murah, pengelolaan lingkungan yang bersih dan mendapatkan tambahan pendapatan karena biogas juga di ekspor ke negara lain seperti jepang.



Singkong dari kebun diolah menjadi tepung topioka, ampas nya akan dijadikan biogas, kulit singkong akan dijadikan pupuk untuk kebun singkong. Kemudian tepung topioka diolah menjadi glukosa, fruktosa, sarbitol dan maltodextrim. Untuk pengolahannya BUDI memakai pewarna sendiri dari pabrik asam sulfat dan dibungkus dengan karung dari pabrik sendiri juga. Bahkan untuk karung plastik , BUDI hanya menyerap 35% dari produksi dan sisanya dijual di luar perusahaan. Produk produk tersebut dijual ke induk yaitu sungai budi group untuk diolah menjadi makanan, sisanya ada yang diekspor dan ada yang dijual di dalam negeri. Mantabbb kan?




KELEBIHAN BUDI

  • Merupakan perusahaan terintegrasi dari hulu ke hilir sehingga menjadi perusahaan yang efisien
  • Biogas memiliki potensi sangat besar karena bisa dijadikan bahan bakar yang ramah lingkungan sehingga meningkatkan minat negara maju terutama jepang untuk membeli biogas dari BUDI.
  • Ingat GERNAS SSB? Yaitu GERAKAN NASIONAL SINGKONG SEJAHTERA BERSAMA yang merupakan gerakan untuk meningkatkan produksi dan harga singkong nasional serta mengurangi import singkong dan bahan sejenis. Dengan adanya gerakan ini bahkan pemerintah menanggung PPN 10% untuk tepung singkong serta menargetkan produksi 9,6 juta ton tepung topioka tahun 2016
  • Produk yang dihasilkan adalah produk yang dibutuhkan secara terus menerus terutama sebagai produk makanan sehingga perkembangan dan kebutuhan akan terus meningkat.
  • Semakin banyak industri yang membutuhkan tepung topioka misal dengan adanya pelarangan membuat kertas dari pohon hutan mengakibatkan adanya peralihan bahan baku industri kertas ke tepung topioka.


KEKURANGAN BUDI

  • Masih lesunya harga singkong dan harga tepung topioka masih menekan pendapatan BUDI
  • Industri besar masih lebih memilih impor tepung topioka dari luar negeri karena mendapatkan kestabilan pasokan menyebabkan membanjirnya produk dari luar negeri
  • Lamanya masa panen untuk singkong (8bulan ) menyebabkan agak sulit untuk menjaga kestabilan produksi karena kesulitan mendapatkan bahan baku apalagi cuaca yang semakin tidak menentu juga ikut berperan menurunkan produksi singkong ( contoh elnino)



PROYEKSI PENDAPATAN 2016





Saat ini pabrik tepung tapioka BUDI menghasilkan 290.000 ton pertahun dengan kapasitas seluruh pabrik tepung tapioka sebesar 750.000 ton (hanya 40%). Tahun 2016 BUDI berniat meningkatkan kapasitas produksi naik 10% menjadi sebesar 320.000 ton per tahun (50% dari kapasitas seluruh pabrik). Hal ini akan meningkatkan pendapatan dari tepung tapioka sebesar 159 M (asumsi harga tepung Rp. 5.300 per kilo)



Kemudian dari 2 pabrik baru yang akan beroperasi pada Q1 2016 dengan kapasitas 144.000 ton pertahun akan menghasilkan tepung tapioka sebanyak 57.600 ton per tahun (asumsi 40% dari kapasitas pabrik) dan akan meningkatkan pendapatan dari tepung tapioka sebesar 305M.


Dari rencana perusahaan yang ingin meningkatkan pendapatan dari tepung tapioka menjadi sebesar 2T (tahun 2015 pendapatan tepung tapioka 1,54M) adalah tidak muluk muluk karena dari pendapatan tahun 2015 sebesar 1,54M ditambah peningkatan produksi pabrik lama sebesar 159M dan dari pabrik baru sebesar 305M yang jika ditotal akan menjadi 2,004T. Mantabb gan..... rencana bisnisnya berdasarkan fakta dan sangat sangat mungkin dicapai.

Lanjut ya brother, saat ini BUDI juga serius untuk mengolah sampah kulit singkong menjadi pupuk untuk kebun singkong atau untuk tanaman sawit dari induk usaha ataupun saudaranya yaitu tunas baru lampung. Dari rencana produksi tepung tapioka sebanyak 377.600 ton pertahun diperlukan singkong sebanyak 1.888.000 ton singkong (setiap 1 ton singkong menghasilkan 200kg tepung). Dari sekian banyak singkong tersebut 10% nya atau sebesar188.000 tonnya adalah kulit. Nah dari kulit inilah bisa dijadikan pupuk atau pun plastik karung yang ramah lingkungan. Kita anggap saja 50% untuk pupuk, maka akan menghasilkan pupuk sebesar 47.000 ton yang jika dijual harga Rp 100 per kilo akan menghasilkan pendapatan sebesar 4,7M.



Satu lagi yang tidak kalah penting adalah biogas atau bio diesel dimana perusahaan semakin serius untuk mengekspor produk biodiesel (tentunya kelebihan dari pemakaian pembangkit listrik tenaga biogas). Mari kita urai. Dari 1,888,000 ton singkong bisa tersisa sebanyak 1.332.400 ton singkong yang mungkin menghasilkan biogas sebanyak 290.000.000 liter per tahun (setiap 6,5 KG singkong bisa menghasilkan 1 liter bio diesel). Dari rencana perusahaan yang ingin mengekspor 10% dari produksi maka akan didapat volume sebesar 29 juta liter yang jika dihargakan Rp 3500 akan menghasilkan pendapatan sebesar sebesar 101,5 M dan 90% nya akan dipakai untuk pembangkit listrik tenaga bio gas milik sendiri.




Mari ditotal pendapatan akhir tahun 2016 menurut penulis
  • Pendapatan 2015
1. Tepung tapioka sebesar 1.541 M
2. Sweetener sebesar 738 M
3. Karung plastik sebesar 79 M
4. Asam sitrat daan kimia lainnya sebesar 17M


Total sebesar 2.375 M

  • Penambahan produksi tapioka sebesar 159 M
  • Produksi pabrik baru sebesar 305M
  • Pupuk kulit singkong sebesar 4,7 M
  • Biodiesel sebesar 101,5 M

Jadi kalau ditotal menjadi 2.945 M dan itu termasuk hasil dari sweetener pabrik baru ya atau peningkatan produksi sweetener pabrik lama. Dengan net profit margin 0,01 akan didapat laba bersih sebesar 29,5 M dan ini harusnya bisa lebih banyak lagi karena selain adanya pembangunan pembangkit listrik 2x6MW yg sudah 90% yang akan mengurangi beban perusahaan. selain itu dengan adanya keringan pajak PPN 10% dari pemerintah untuk produsen tepung tapioka serta harga tepung tapioka yang terus merangkak naik juga diharapkan dapat meningkatkan laba perusahaan dikemudian hari. Nah dari laba bersih sebesar 29,5M didapat laba perlembar sebesar 6,5 per lembar dan dengan asumsi PER 15x maka harga wajarnya minimal 97 per lembar dan harga saat ini 70 per lembar.



nah untuk analisis fundamental dan tehnikal cek sendiri ya di laporan keuangan dan chart masing masing.

Penulis rasa BUDI merupakan sampah mutiara diantara saham saham di indonesia. Ini bukan ajakan beli ya. Resiko tanggung sendiri

Silakan di komen ya tapi yang sopan. Kata kata komennya jangan menyakitkan, salam damai selalu







penulis.


4 comments:

Anonymous said...

http://c8news.blogspot.co.id/2014/11/lampung-10-november-2014.html

Ikadek sb said...

Sipppp pak kisahnya

Unknown said...

Menarik sekali ulasannya tentang SBG... tdk sengaja membaca ini...
Kebetulan saya menggunakan tepung tapioka cap Gunung Agung produksi PT. Budi Starch & Sweetener Tbk utk bahan baku siomay dan bakso. Saya ingin tau, apakah produksi SBG ini memiliki sertifikasi halal MUI ?

Phemonix said...

mantap!!